icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 8 

Jumlah Kata:592    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

marmer yang dingin. Bisikan para tamu te

an. Dia memejamkan mata, memaksa lebih banyak air mata jatuh, dan mel

njang muncul di hadapannya, me

gan rambut sedikit keriting sebahu dan mata mel

ang sedang naik daun, dikenal karena film-film psiko

ya. Sebuah kilatan tajam dan penuh pe

iarkannya dengan lembut menariknya berdiri. "Terima kasih, Bapa

an matanya yang merah penuh air mata. K

-orang paling baik selalu menjadi

an menunduk. "Tidak apa-apa. Selama kemaraha

ris yang sombong, dan dorongan protektif yang kuat terhadap Gisela Had

racun ini," kata Ardi, "aku punya peran di filmku

enundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, tetapi di dalam hatinya,

cur mulus di jalanan Manhatt

s sepatu hak tingginya. Dia melipat kakinya ke atas

mperhatikan bentuk tubuhnya yang santai,

tap ke luar jendela pada

merasakan euforia. Kalimat tentang ti

Dia mengepalkan tangan ke mulutnya dan b

ap garis rahangnya yang tegas. Gelomba

atir dalam hati. Itu akan membuat sindikat ko

langsung menyipit

lara Davina Wijaya melanjutkan dalam benaknya. Dana perwalian Aditya

g. Daffa Mahendra. Rival terbesar Kum

blet terenkripsinya. Dia membuka kalender perusahaan dan um

rja. Dia berasumsi dia mengganggunya. Dia diam-diam

alaninya satu hari pada satu waktu. Jika perusahaan bangkr

aya membeku di

ing untuk m

dadanya. Dia menoleh. Elara Davina Wijaya sud

kursi dan menyampirkannya

Tidak ada yang akan menyentuh Kumpulan Wijaya. D

asi bawah tanah. Perang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”