icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 7 

Jumlah Kata:627    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

gga melengkung. Mereka kembali berjalan ke ruang dansa ut

dibusana renda putih bersih. Ketika ia melihat Aditya me

ketika digantikan oleh ekspresi menyedihkan

ranya cukup agar para tamu di sekitarnya bisa mendengar. Suaranya

a jijik yang menusu

ara. Si sok polos

gin batu. Ia menatap Gisela tan

membeku Aditya. Ia melangkah maju dan mengulurkan tangan,

lus melangkah ke samping, meninggalkan tangan

balik ke Elara, suaranya merendah menjadi bisikan memelas. "Elara... apakah

atap lantai, membiarkan para tamu berasums

nya begitu keras h

i. Aditya melarangmu, ular manipulatif

tya. Ia tetap diam sempurna, menunggu apa ya

ngan terakhir. Ia menarik napas tajam yang tiba-tiba. Pergelangan kakinya

koma, di sinilah aku secara naluriah mendorongnya, ia jatuh, dan aku menjadi

telapak tangan menghadap ke luar, d

u. Tanpa ada yang menahannya, pusat gravitasinya bena

saudarinya. Sebaliknya, ia meraih pinggang Elara dan menariknya

l

elas sampanyenya pecah, memercikkan cairan kuni

ua orang menatap dalam keterkejutan mutlak. Aditya Wijaya bar

ya berdenyut kesakitan. Ia menatap Aditya, air mata

kan darah. "Jika kau bahkan tidak bisa berdiri sendi

fisik di wajah. Citra keanggunan yang telah ia

itu keras hingga terasa dara

ati. Wajahnya benar-

a dalam benaknya. Es di

an jari-jarinya. Ia membalikkan badannya menghad

enjadi, putri sulung Keluarga Wijaya. Ia adalah satu-satunya saudari yang

Hierarki sosial New Y

awatnya begitu keras ke telapak tangannya hingga berd

Elara maju, berjalan keluar dari ruang dansa di

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”