icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 6 

Jumlah Kata:609    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

andar pada tiang Romawi tebal, memegang piring kecil

menuju balkon t

wiski. Matanya merah padam dan tatapann

ai menjijikkan menyebar di wajahnya

mundur selangkah, punggungnya membentur pa

wah. Kalau bukan sampah yang dibuang keluarga W

angan, mencoba me

s tangannya

a mual karena jijik. Dia bengkak

g menerobos kerumunan. Suara

dua. Dia mendorong melewati sekelompok p

karena marah. Dia melangkah

bukan siapa-siapa sekarang. Tidur denganku

nya. Dia menatap wajah Reza, benaknya

kliping koran terl

ngat! Ini Reza Kusuma! Psikopat yang me

engar kata-kata itu, benang terakhir kewarasannya putus. Ni

ari-jarinya yang tebal mer

suara benturan yang memekakkan

l, memaksa kunci logamnya patah dengan suara retakan yang memekakkan te

Dia meraih kerah belakang Reza dan mena

dia sempat mencerna apa yang terja

menyembur dari hidung Reza. Dia berteriak,

kulit mahalnya dengan keras ke dada Reza, menahannya. Dia menatap

inya ke pagar, da

get. Tunggu, bagaiman

ksa detak jantungnya melambat. Dia menatap Elara, me

. "Sentuh dia lagi, dan

balkon, menginjak pecahan kaca. Mereka t

atap Wira. "Ini pria yang kau pilih untuk Ka

Dia tidak bertanya. Dia sepenuhnya pe

baikan tanga

et Reza pergi denga

a melepas jasnya lagi dan melilit

dengan air mata yang tertahan. Dadanya ter

.. dia mengarahkan semua kekerasan itu pada orang lain, hanya untukku. Dadaku sesak, tapi

dia mendengar pikiran lembut Elara. Dia men

siknya di rambut Elar

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”