icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 5 

Jumlah Kata:578    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

masuk Hotel St. Regis. Kilatan kamera m

ng menjejak trotoar, kehadirannya langsung mendomin

gannya di tangan Aditya. Dia kelua

an tamu. Bisikan-bisikan terdengar di udara. Bukankah it

secara naluriah mundur, mencoba ber

dengan kuat ke sisinya. Dia menunduk, bibirnya menyentuh rambut Elara. "Tegakkan

egak, mengangkat dagunya, dan mengaitkan lengannya ke lengan

an emas. Namun di lounge sudut

elilingi oleh sekelompok

ok Kania. Dia menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut palsu. "Oh, astaga! Aku min

gkeram kain yang rusak, bahunya ber

berang ruangan. Perutnya

a tahu Keluarga Santoso sedang mengalami masalah

a-tiba mengubah jalannya, mengarahkan Elara me

k-bahak. Mereka tidak menyadar

nya membelah udara seperti pisau. "Sepertinya a

jah Aditya Wijaya, semua warna memudar dari pi

penuh anggur merah dari nampan pelayan yang lewa

lembut. "Atau besok pagi, ayahmu akan me

gelas dan menenggak anggur, menumpahkan

leh ke Kania, nadanya melembut. "Kania

kasih yang tulus. Dia mengumpulkan r

ngan yang terkejut. Pesannya jelas: Keluarga San

ntungnya berdebar ken

dari sepuluh untuk gerakan kekuatan itu! Andai saja dia tid

ela napas pelan. Dia mengangkat tangannya,

h sorotan menerangi panggung utama. Wira m

e arah panggung

lengannya dari Aditya dan meluncur mundur ke

u akan mencari sudut yang tenang, makan kue, d

ir. Lampu kem

gan di sampingnya kos

elap. Suhu di sekit

ya. Tiga pengawal besa

itya menggeram melalui gigi te

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”