ft, naik dari lobi setelah urusan singkat untuk men
h manajer senior, mengenakan blazer rapi, memegang kopi es. Mereka b
ya salah satu dari mereka, memoles kemb
. "Tapi dengar ini-Finley Budiman terlihat mengantar seoran
berharap bisa menghilang. Dia menatap angka-an
pa d
an dia mengenakan Chanel. Sepert
itu erat hingga berkerut keras. Para wanita itu meliriknya, terg
ahan lama. Ezra Wijaya tidak menjal
elum pintu bisa terbuka, lift berhent
geser
rdiri d
anggota dewan lainnya. Udara
ngan jelas. Mereka meluruskan punggung m
mpak, suara mereka bergetar den
apannya langsung melewati kepala m
; sekarang terasa mikroskopis. Dia tidak berdiri di depan.
annya. Panas yang memanc
kan tombol untuk lant
a. Kedua manajer itu menahan nap
nya. Dia tidak melihat Hal
di bagian D
k. "Uh, tidak, Tuan W
lina. Matanya tertuju pada kerah
uaranya turun satu oktaf. "Sampai
hu. Dia tahu persis mengapa dia memaka
lina berhasil berkata, sua
berkedut. S
amnya. "Bukan i
manajer itu bergegas keluar seolah-olah mobil i
engikuti mereka, putus
sini," k
pintu tetap terbuka, wajahny
danya. Dia meng
entak, mund
ri-jarinya, hangat dan kasar, menyentuh kulit sensitif di bawah t
ncuat," dia
lam sebelumnya. Sengatan listrik murni yang tak terbantahkan menjalar di tulang
a berbisik yang hanya
k, Halina. Aku tidak
kembali ke ekspresi dinginn
iri di sana sejenak, kakinya gemetar, kulitny
aja? Kamu sudah p
h keluar dari lift dan berjalan menuju pintu kayu berat, tahu bahwa/0/34538/coverbig.jpg?v=86d4a6d10b5af37bf97469a0d77ef220&imageMogr2/format/webp)