icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Satu Malam Bersama Bos Miliarderku

Bab 4 

Jumlah Kata:603    |    Dirilis Pada: Hari ini11:56

ft, naik dari lobi setelah urusan singkat untuk men

h manajer senior, mengenakan blazer rapi, memegang kopi es. Mereka b

ya salah satu dari mereka, memoles kemb

. "Tapi dengar ini-Finley Budiman terlihat mengantar seoran

berharap bisa menghilang. Dia menatap angka-an

pa d

an dia mengenakan Chanel. Sepert

itu erat hingga berkerut keras. Para wanita itu meliriknya, terg

ahan lama. Ezra Wijaya tidak menjal

elum pintu bisa terbuka, lift berhent

geser

rdiri d

anggota dewan lainnya. Udara

ngan jelas. Mereka meluruskan punggung m

mpak, suara mereka bergetar den

apannya langsung melewati kepala m

; sekarang terasa mikroskopis. Dia tidak berdiri di depan.

annya. Panas yang memanc

kan tombol untuk lant

a. Kedua manajer itu menahan nap

nya. Dia tidak melihat Hal

di bagian D

k. "Uh, tidak, Tuan W

lina. Matanya tertuju pada kerah

uaranya turun satu oktaf. "Sampai

hu. Dia tahu persis mengapa dia memaka

lina berhasil berkata, sua

berkedut. S

amnya. "Bukan i

manajer itu bergegas keluar seolah-olah mobil i

engikuti mereka, putus

sini," k

pintu tetap terbuka, wajahny

danya. Dia meng

entak, mund

ri-jarinya, hangat dan kasar, menyentuh kulit sensitif di bawah t

ncuat," dia

lam sebelumnya. Sengatan listrik murni yang tak terbantahkan menjalar di tulang

a berbisik yang hanya

k, Halina. Aku tidak

kembali ke ekspresi dinginn

iri di sana sejenak, kakinya gemetar, kulitny

aja? Kamu sudah p

h keluar dari lift dan berjalan menuju pintu kayu berat, tahu bahwa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
“Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat. Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya. Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana. "Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis. Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama-pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu. Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu. "Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku." Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.”