icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Satu Malam Bersama Bos Miliarderku

Bab 3 

Jumlah Kata:887    |    Dirilis Pada: Hari ini11:56

rah sweter kasmir tertebal dan tertinggi miliknya. Warnanya abu-abu arang dan terasa sangat han

ngan yang ditinggalkan oleh akhir pekan tanpa tidur. Mual akibat Pil Kontrasepsi

ndra Suryawinata sejak teks "semoga akhir pekanmu me

nstagram Indra Suryawinata. Tidak ada apa-apa. Foto-foto yang ditandai bersih. Tetapi

terdengar seperti tuduhan. Lobi ramai dengan aktivitas, bunyi sepatu

erat-erat seolah itu penyelamat. Dia berhasil sampai ke

dengan contoh kain, sketsa, dan papan suasana hati yan

an teman kerja Halina, menggese

," bisik Yara, matanya membelalak. "T

. Dia memaksakan senyum, menyal

rsihan bilang mereka menemukan gaun wanita

kan kopi panas ke pergelangan tan

i gala. Semua orang mencoba menebak siapa. Beberapa bilang itu

gnya berdebar kencang di dadanya. "Atau mung

ina, suaranya terdengar t

lorong. Dia berhenti di meja Halina, mengambil sketsa yang

an kacamatanya. "Sangat agresif. Ada kualitas yang... meng

ari wajahnya. "Oh, aku... aku han

meja. "Jangan terlalu rendah hati. Aku butuh kamu

belum Halina

kursinya. Diperhatikan itu berba

h kotak notifikasi kecil muncul di sudut kanan bawah la

n Pertema

yang menambahkan orang sebagai

klik not

guna

an:

ayar. Avatar ada

z

perusahaan. Di mana IT bisa melihat. Di mana siap

angkah kekuasaan. Dia menyerbu ruang kerjanya, mengingatkannya bahwa di

dak akan memainkan permainan ini. Dia b

rsor ke tombol Tol

taan D

ebar kencang. Dia baru saja menola

ncoba fokus pada lembar kerja

dering. Suara melengki

alina Adhitama," jawa

n terdengar dari telepon. "Tuan Wijaya ing

jamkan mata

sibuk memp

g, Nona

on te

natapnya dengan kasihan. "Kamu dipanggil

Halina, berdiri. K

buku catatannya erat-erat di dada. Di

ntu terbuka di lantai 45, sebuah ruang kemewa

uar pintu mahoni ganda. Dia

sung

lan ke pintu

as

-langit, membelakanginya. Dia mengenakan setelan jas yang harganya lebih mahal da

Dia memegang ponselnya

tengah ruangan, m

ertemu saya,

ahnya, langkahnya lambat dan disengaja. Dia berh

layar ada notifikasi: Halina

mata gelapnya

nganmu?" tanyanya, suaranya rendah d

lina, mundur sampai tumitnya mem

kepalanya, mengurungnya. Aroma cendana menyelimutinya lagi, me

tnya berjarak beberapa inci dari telinganya. "Dan menolak per

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
“Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat. Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya. Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana. "Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis. Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama-pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu. Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu. "Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku." Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.”