icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Satu Malam Bersama Bos Miliarderku

Bab 2 

Jumlah Kata:1084    |    Dirilis Pada: Hari ini11:56

gga buku-buku jarinya memutih. Matahari pagi menyilaukan dari

tanah," katanya, meskipun

Adhitama. Dan saya yakin paparazzi sering berkemah di kafe pojok pagi

memang sedang mengawasi, alisnya sedikit terangkat melihat

ncur ke kursi kulit. Interiornya berbau samar aroma ce

yang kacau. Partisi antara depan dan belakang sudah diturunkan. Halina menatap

y, matanya bertemu dengan

asanya salah menyebut nama jalan di mobil in

k. "Brooklyn. Pe

longgar di kursi-tunggu, tidak ada benang longgar di Maybach.

ley tiba-tiba. Nada suaranya santai, seperti seda

merasakan darah mengalir ke wajahnya. "Aku tidak tah

dak jelas. "Kesalahan biasanya

padanya. Dia ingat bagaimana Ezra memandangnya tadi malam di lift. Ada rasa lapar di matanya yang membu

berharap tanah akan m

lonjak, jantungnya berdebar kencang. Itu

gkat teleponmu. Ketiduran semal

layar. Ketidu

ya: 23:45. Indra Suryawinata adalah orang yang suka

engkeram perutnya. Dia

curigaan itu. Tanggalnya. Dia melakukan perhitungan ment

darah mengerin

," katanya. Suaran

lirik ke kaca spion. "Nona Ad

asi Sejahtera di sana. Aku

engerti. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya memberi i

ntu. Dia bergegas keluar, hampir ter

ga, jantungnya berdebar kencang di telinganya. Dia merasa semua orang memandangny

l yang harus dibayar untuk menghapus kesalahan yang mengubah hidup, meskipun tulisan keci

ai kotak itu. Dia melihat setelan mahal Halina, lalu rambutnya yang acak-acakan, lal

k kertas. Dia memasukkan kotak itu ke dalam tas

dia beli. Dia hanya bergabung kembali dengan lalu lintas. Ta

a. Dan jika dia curiga, d

bil akhirnya berhenti di depan gedung apartemennya yang usang di Brooklyn, kontrasnya sangat mencolo

mam Halina, mendor

itama," k

i, menoleh

uaranya kini tanpa ejekan. Itu adalah

ngga tertutup dan berlari

irnya, dia berhasil membuka pintu dan terhuyung masuk ke apartemennya. Dia mengunci g

ng.

annya gemetar saat dia merobek kemasan foil.

n air keran, dan menelan pil itu. Pil i

ya. Itu psikosomatik, dia tahu, tapi dia

a ini darinya. Dia harus men

a memandang dirinya di cermin. Memar di lehernya sema

annya. Dia menggosok kulitnya hingga lecet da

mbungkus setelan Dior dan pakaian dalam itu ke dalam kantong plastik dan menyelipkannya ke bagian b

rakoso, sahabat terbaiknya dan seora

semalam? Aku bersumpah melihatnya d

n itu. Klub The Box

ngirim pesan teks padanya

erutnya semakin mencen

ntang berada di klub? Ke

a blok jauhnya, Finley mengetik

potek. Dia terliha

Wijaya melihat pesan itu. Ponsel di tangann

a, mengembuskan napas perlahan dan terkontrol. Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba dan kasar, dia memat

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
“Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat. Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya. Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana. "Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis. Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama-pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu. Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu. "Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku." Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.”