icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Shadow Under The Light

Bab 8 Axel Sakit

Jumlah Kata:1004    |    Dirilis Pada: 27/12/2021

nya yang menganga lebar. Terutama pada bagian kepala. Layaknya k

kali lagi. Ia lalu menjambak kemeja Axel dan

-huyung, tetapi tidak terjatuh karena si

kan kakinya ke sisi tubuh pria itu, me

gan ancang-ancang. Ia berhasil menangkap kaki Axel lalu memelintirnya, membuat Axel menjerit keras, sebelum memb

, kudengar ia berteriak

ghabisi Axel. Dengan kalut aku mengikuti langkah mereka ke bawah. Tidak

enghajar wajahnya. Spontan, aku meraih lampu tidur di samping ranjan

di kepala mengucur semakin deras. Ia berbalik penuh amarah ke arahku

u merasa sesak, megap-megap mencari udara. Tanganku mencakar-cakar lengan

ra mendapatkan oksigen. Bercak-bercak kegelapan mulai menyelimuti sudut mata, ketika kegelapan akan menyelimutiku sepe

n. Aku mendengar suara tersedak, kemudian t

ak besar yang menancap di sana. Masih terbatuk he

ncabut kapaknya. Ia lalu menghunjamkan kapakn

upalingkan wajah sambil memejamkan mata kuat-kuat.

ali aku menjerit kuat, suaraku hilang dan terdenga

-apa, tenanglah .

. Kepalaku berputar kuat, ragaku terasa semakin ringan dan tak berdaya. Entah berapa lama kami saling berpelukan sepert

*

Mataku berkedip, menyesuaikan bias sinar. Pandanganku mengeja jam di

kedua tanganku bebas. Tanpa borgol y

ercekik. Kulit di sekitar area itu terasa sakit saat tersentuh jemari. Aku tahu area ini pasti memar dari int

, duduk di tempat tidur

ubuhku terlonjak ke belakang. Betapa mudahnya aku terkejut

terdengar berat. Tangan pemuda itu menggenggam secarik besar kain merah. Kutarik

diriku mengenakan baju Axel lagi, kaus putih polos d

ia yang mengganti baj

ukul ke

bukan. Ia tidak mungkin ber

cari kepastian, takut juga apa

hal sex dan sejenisnya. Aku memukul kepala kesal, ingatan memuakkan bibir pria mesum itu menyentuh bibirku kembali tergiang, ciuman pertamaku dicuri begitu saja,

ta besar itu membiru. Jemariku menelusuri warna-warni menyedihkan itu, jejak inflamasi juga meng

erlonjak, belum sempat menarik tanganku k

ali, genggamannya begitu kuat. Ia meletakkan tanganku di pipi dan menjadikannya bantal. Menggesekkan perlahan k

panas dan pipinya yang tersentuh

dia

anas. Ia kembali menggumamkan sesuatu, mungkin mengigau karena demamnya. Mula-mula rintihan pelan, semakin lama berganti gumaman gelisah. Ke

ng harus kulakukan? B

h kesempatan untuk kabur? Sementara aku tidak terikat

narik tanganku perlahan dari genggamannya. Kali ini de

dan melupakan yang terjadi. Memulai s

melangkah k

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Shadow Under The Light
Shadow Under The Light
“Mati. Kata itu bakal menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar manusia di muka bumi ini, tetapi tidak untukku. Pertemuan pertama dengannya merupakan kesialan sekaligus keberuntungan bagiku. Aku hidup, tetapi terjerat dalam pesona maut si pembunuh tampan bernama Axel. "Matamu cantik." Kalimat pertama yang dia ucapkan padaku. Aku tahu dia tak melihat ketakutan akan kematian di sana. Bersamanya, aku merasa diperlakukan sebagai manusia setelah menerima begitu banyak sakit hati. Namun, sampai kapan Axel bersedia menerimaku. Setelah pembunuhan-pembunuhan mengerikan yang ia pertontonkan. Sampai kapan hingga tiba giliranku berikutnya? Ketika mataku ... tak indah lagi baginya.”