“Di kantor, aku dikenal sebagai "Ratu Es" yang sempurna dan tak tersentuh. Namun di balik topeng itu, aku menyembunyikan neraka bernama PGAD-kelainan yang membuat tubuhku terus-menerus berada dalam gairah seksual yang menyiksa tanpa obat penekan hormon. Bencana terjadi saat gathering kantor di Puncak: aku lupa membawa obat penyelamatku, dan parahnya, aku dipaksa berbagi kamar sempit dengan Dhimas Pakpahan, atasan kaku yang paling kutakuti. Malam itu, pertahananku runtuh. Dhimas tidak hanya menyaksikan tubuhku menggeliat liar di luar kendali, dia juga yang turun tangan "menjinakkan" gairahku dengan sentuhan intim yang menghancurkan batas profesionalisme kami. Keesokan harinya, saat seorang rekan kerja mesum mencoba memperkosaku karena melihat kondisiku yang kacau, Dhimas mengamuk dan menghajarnya hingga babak belur. Namun, ketakutan sejatiku justru muncul setelahnya. Bukan karena darah yang tumpah, melainkan saat Dhimas mendekapku erat di depan semua orang, menatapku dengan obsesi gelap, dan menyatakan klaimnya: "Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawabku. Hanya aku yang boleh menjadi 'obat' bagi tubuhmu."”