icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Takdirku Mati Dalam Api

Bab 4 

Jumlah Kata:1234    |    Dirilis Pada: 10/12/2025

Hasan

ncana kematiannya sendiri. Ini bukan lagi permainan. In

di grup itu dihapus. "Sial! Siapa yang memasukkan Gita ke grup

tap layar ponsel, setiap kata menusuk lebih dalam dari pisau manapun. Bukan hanya mereka men

ncana mereka bukan hanya mencampakkanku, tapi menghabisiku sepenuhnya. Ia ingin aku mat

di layar, di antara pesan-pesan mengerikan yang baru saja kubaca. Aku menatapny

ab, suaraku tercekat d

amar rumah sakit?" Suaranya terdengar cemas,

berusaha agar suaraku tidak bergetar

mematikan. Lalu, suaranya kembali, sedikit lebih tegang.

lam," jawabku, suaraku dat

nya yang berat. "Aku... aku akan segera ke s

ahnya. Tidak ingin menghirup udara yang sama dengannya.

t pesan-pesan itu?" Suaranya terdengar panik sekarang. Panik

elihatnya," aku berbohong, berusaha terd

ya, jangan pedulikan kalau ada pesan aneh-aneh. Itu pasti

nuhku, kini berjanji akan melindungiku. Aku tidak bisa menahan

gakhiri panggilan. Aku tidak ingin men

akan sisa-sisa kelemahan di tub

Dzaki, tapi dari sebuah nomor tak dikenal. Sebuah mobil van hitam berhenti mendadak di

u aneh dibekapkan ke hidungku. Penglihatanku kabur. Dunia berputar.

Bau apek dan lembap memenuhi indra penciumanku. Mataku berusaha beradaptasi

gun," sebuah suara kasar te

"Siapa kalian? Apa y

m. "Kami hanya ingin sedikit bersenang-senang, Nona. Dzaki tidak lagi pedul

u tidak akan membiarkan mereka menyentuhku. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku meronta le

terasa berdengung, darah menetes dari sudut bibirku. Air mat

obrak. Keras sekali. Bayan

, wajahnya penuh amarah. Matanya menyala-nyala. "Apa y

t. Mereka tidak menya

rkan beberapa lembar uang ke arah mereka. "Ambil ua

il uang itu dan melarikan diri. Dzaki berjalan mendek

ku dipenuhi ketakutan. Ketakutan akan dirinya, akan sem

n sedikit kesedihan. Tapi aku tidak peduli. Aku

limuti. Aku pingsan lagi, kali ini bu

Dzaki di sampingku. Tapi aku mendengar suara-suara. Suara Dzaki

na ini, Arbi?" Suara Dzaki terdengar marah. "

dari grup chat. Dalang di b

dari rencana kita, kau lupa? Membuatnya menderita,

eman dan mencoba... mencoba menjijikkan seperti itu!"

u tidak pernah peduli sebelumnya. Kau hanya ingin membalas dendam untuk

ranya terdengar lagi, lebih pelan, sep

ngejek. "Dzaki Rafsanjani, si playboy yang dingin, jat

ab. Aku mendengar

mengakui perasaannya. Perasaan apa? Cint

arena sakit. Suatu perasaan dingin yang lain

k, suaranya dipenuhi frustrasi. "Aku hanya... aku

serah kau saja, bro. Ta

bingung, berjuang dengan perasaannya sendiri. Namun, bah

hatku. Sebelum ia melihat bahwa aku telah mendengar semuanya. Kebingunga

embiarkan ia mem

ainya?" Arbi bertanya lagi, s

ngan p

mungkin, ia akan menjawab dengan keboho

sudah bulat. Aku tidak akan lagi menjadi gadis yang naif dan bo

a terdengar, tegas dan dingi

n setelah semua yang aku dengar. Ta

mereka membuat rencana lain untuk membunuhku. Aku akan pergi

ai sudah tiba. Langit yang gelap

g. Dan mereka semu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Takdirku Mati Dalam Api
Bukan Takdirku Mati Dalam Api
“"Kita akan mencampakkannya setelah koleksi musim panas selesai!" Tawa Dzaki, kekasihku selama tiga tahun, terdengar jelas dari balik pilar kapal pesiar, menghancurkan duniaku dalam sekejap. Ternyata, hubungan manis kami hanyalah skenario balas dendam demi Rosa, wanita yang memfitnahku mencuri desainnya. Tidak cukup hanya memanfaatkanku sebagai desainer bayangan, mereka memberiku obat yang merusak organ secara perlahan. Bahkan, mereka merencanakan kebakaran di sebuah villa untuk melenyapkan jejakku selamanya, seolah-olah itu kecelakaan tragis. Aku mendengar Dzaki setuju untuk "memberiku pelajaran" terakhir itu dengan dingin. Hatiku hancur berkeping-keping menyadari pria yang kucintai ternyata adalah monster yang ingin membunuhku. Tapi aku tidak akan mati semudah itu. Aku memalsukan kematianku di dalam kobaran api villa itu, meninggalkan cincin tunangan kami di samping mayat palsu, dan terbang ke Milan. Tiga tahun kemudian, aku kembali ke Jakarta sebagai Gia, desainer kelas dunia yang dingin dan tak tersentuh. Saat Dzaki menatapku di runway dengan wajah pucat pasi seperti melihat hantu, aku tersenyum miring. "Maaf, Tuan. Anda salah orang. Gita yang bodoh itu sudah Anda bunuh tiga tahun lalu." Permainan baru saja dimulai, Sayang.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 19