icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1333    |    Dirilis Pada: 05/12/2025

h empat puluh tahun, kebenaran bi

i tablet baru cucu, jari saya malah tak se

suami saya dengan sahabat karib saya sendiri, Wulandar

ini hanyalah kedok untuk bulan madu abadi merek

ideo anak kandung saya, Rizal, sedang tertawa l

ak membantu saya menggeser lemar

pipi pelakor itu dan berbi

a runtuh

kol menjadikan saya "inkubator" hidup untuk melahi

imanfaatkan, tidak dicintai, dan diam-

n diam demi reputasi

h be

g, menuntut cerai, dan menguras har

njadi penenun sukses y

elah hancur lebur dan kehilangan segalanya, saya h

a

DANG SITI

rentetan gambar yang merenggut napas saya. Ini tablet barunya, saya hanya ingin meng

ah folder. Namany

an untuk "riset budaya". Selalu b

buka fol

saya. Mereka berdua dalam pakaian santai, di sebuah pantai. Air laut yang biru ber

k mungkin. Ini pasti hanya kebetulan. Mung

mewah. Wulandari memegang tangan Teguh, tersenyum genit. Teguh membalas senyumnya, ta

ari yang sebelumnya. Mereka berpelukan di depan piramida Mesir. Mereka berciuman di bawah Mena

. Ini adalah pe

mpat pul

lang dia sedang "perjalanan dinas". Perjalanan yang selalu dia habiskan untuk "riset buda

tnya, bahkan menuliskan daftar obat-obatan jika dia s

ahun, saya telah hid

aya. Orang yang selalu saya ajak berbagi cerita tentang Teguh, tentang anak k

bodohny

eperti ada tangan tak kasat ma

galeri seni. Wulandari sedang menata patung, tertawa lepas. Rizal, anak s

?" Rizal menggerutu, tapi ada senyum di b

ng Rizal. "Astaga, anak bungsu Mama in

kan lagi sakit saraf kejepit, Ma."

al membantu saya menggeser lemari dapur yang b

ya waktu itu. "Saraf kejepit, katanya dokter. En

hkan memijat punggungnya, mem

besar itu sendirian, sambil tertawa

zal berbisik dalam video i

saya r

jantung saya. Lutut saya lemas. Saya jatuh terduduk di kursi ruang tamu. Tablet itu jatu

saya tahan, kini mengalir

menari-nari di kepala saya. Teguh dan Wulandari.

esa polos yang mereka pakai

masih menjadi kekasih Wulandari, datang ke desa saya dengan janji-janji manis.

hat begitu ramah, begitu perhatian. Dia bilang, "Siti, kam

landari mandul. Keluarga Teguh membutuhkan keturunan. Say

n anak. Hanya untuk m

ya bergetar saat saya men

a kamu kenapa?" Bi S

iri. "Enggak, enggak apa-a

ya kamu enggak pernah telepon k

landari? Tema

kota yang cantik itu. Yang waktu itu

ra saya nyaris

ian masih be

h tiba-tiba mau sama saya? Padahal dia sud

g di ujun

ata Bi Sumi pelan. "Tapi Bibik enggak

ita, Bi," kata saya. "Sa

iti. Keluarga Teguh yang terpandang itu enggak bisa menerima menantu ya

i dan Teguh meren

ahwa kamu adalah wanita yang baik, yang pantas untuk Teguh. Dan Teguh

ga yang dia bangun dengan saya, ta

mu masih

asih di sini."

risetnya". Saya selalu menganggap itu adalah beban seorang suami yang bekerj

njadi istrinya. Hanya seb

tersenyum bahagia. Mereka berciuman. Mereka berpelukan.

kesukaan mereka, membersihkan kotoran mereka, memanjaka

sakit dari apapun yang pernah saya rasakan. Ini

nggung tangan. Air mata asin yang

ring lagi. Nama Ra

itu!" suara cicitan Rara terdengar di teling

lu saya buatkan dengan penuh cinta. Makanan yang seo

g ke dinding. Lalu, dengan gerakan lambat, sa

ku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas
Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas
“"Aku tak pernah menyangka, setelah empat puluh tahun, kebenaran bisa terungkap dari tablet cucuku." Niat hati ingin mengunduh lagu anak-anak di tablet baru cucu, jari saya malah tak sengaja membuka folder bernama "Proyek Riset". Isinya bukan dokumen kerja, melainkan ribuan foto mesra suami saya dengan sahabat karib saya sendiri, Wulandari, di berbagai negara selama empat puluh tahun terakhir. Ternyata, "perjalanan dinas" suami saya selama ini hanyalah kedok untuk bulan madu abadi mereka, sementara saya di rumah menjadi babu gratisan. Yang lebih menghancurkan hati, saya menemukan video anak kandung saya, Rizal, sedang tertawa lepas membantu Wulandari mengangkat lukisan berat. Padahal seminggu lalu, dia menolak membantu saya menggeser lemari dengan alasan "saraf kejepit". Di video itu, Rizal mencium pipi pelakor itu dan berbisik, "Mama yang seharusnya." Dunia saya runtuh seketika. Rupanya, karena Wulandari mandul, mereka bersekongkol menjadikan saya "inkubator" hidup untuk melahirkan keturunan bagi keluarga terpandang suami saya. Saya hanyalah wanita desa polos yang dimanfaatkan, tidak dicintai, dan diam-diam dihina oleh suami dan anak sendiri. Mereka pikir saya akan diam demi reputasi dan takut hidup miskin? Salah besar. Hari itu juga, saya mengemasi barang, menuntut cerai, dan menguras harta gono-gini yang menjadi hak saya. Saya pergi ke Bali, menjadi penenun sukses yang dipuja ribuan orang. Dan ketika mereka datang mengemis di kaki saya setelah hancur lebur dan kehilangan segalanya, saya hanya tersenyum dingin dan menutup pintu selamanya.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10