icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Ayah Mertuaku, Musuhku

Bab 3 menyesakkan dadanya

Jumlah Kata:1871    |    Dirilis Pada: 09/11/2025

aman terdengar riang, namun di hati Laras, ada kegelisahan yang tak bisa dihapuskan. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegang

ang belum pernah ia rasakan sejak kematian suaminya. Namun, kenyamanan itu datang bersamaan dengan tekanan yang semakin nyata: tatapan keluarga

h. Tanah masih basah akibat hujan semalam, dan aroma bunga yang mekar di taman memberi sedikit ketenangan. Saat ia b

u," suaranya terdenga

s. Ada sesuatu di dalam tatapan itu yang membuat hatinya berdebar-r

ap Laras, berusaha

n bicara, tapi di tempat yang lebih sepi," kat

n angin yang membawa aroma hujan. Laras merasa ketegangan meningkat, meski hatiny

ta jujur satu sama lain. Tidak ada lagi rahasia yang menekan hati. Aku

erasaan ini, aku akan mengkhianati kenangan suamiku. Tapi aku juga... aku tidak bisa me

lau hatimu mulai terbuka. Aku hanya ingin kau tahu, aku siap menunggu, tanp

ganggu ketika langkah kaki terdengar dari arah rumah. Dari kejauhan muncul

formal namun ada ketegangan terselubun

singkat, memberi isyarat agar Dania duduk. Namun, ketegangan

aras ini... penting bagiku.

tidak ingin hal-hal menjadi rumit. Aku hanya ingin semuanya jelas. Tidak ada yang

lega. Kehadiran Dania seolah menjadi pengingat bahwa hubungannya de

setiap gerak-gerik Rizqan menjadi lebih diperhatikan. Namun, di sisi lain, perasaan Laras pada Rizqan semakin kuat. Ia mula

diri, menjauh dari ketegangan yang semakin terasa di rumah. Di sana, ia bertemu

hangat. "Aku sering melihatmu di taman ru

enenangkan diri. "Tidak, t

s. "Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik. Rizqan se

entang perhatian dan cinta, tetapi juga tentang orang-orang yang memperh

an Laras dan Rizqan. Tatapan mereka yang penuh perhatian dan bisik-bisik yang terdengar samar-samar me

ang berkelap-kelip di kejauhan. Rizqan berdiri di sampingnya,

. "Aku takut kalau kita terlalu dekat, terlalu banyak ora

takut. Tapi aku tidak ingin membiarkan ketakutan menghentikan kita. Aku

ko, ada tekanan dari orang lain, dan ada dilema moral yang terus menghantui. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama,

menghadapi tatapan keluarga, godaan dari orang-orang baru, dan konflik batin yang tak pernah mereka

hujan yang menetes di kaca. Ia tahu perjalanan mereka baru dimulai. Ada rahasia yang

ekad. Ia tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi ia siap, selama Laras mau melangkah bersaman

izqan yang hangat di tangannya. Ia sadar, meski penuh ketidakpastian, langkah pertama m

hujan semalam yang masih tersisa di halaman. Laras duduk di kursi makan, menatap cangkir kopi hangat di tangannya tanpa bena

enuh pertanyaan, dan bisik-bisik yang terdengar samar-samar membuat Laras merasa setiap langkahnya diawasi. Namun,

ntu. Rizqan masuk dengan ekspresi serius, membawa beberapa do

a mulai tegang. "Tentang

"Beberapa rahasia lama keluargaku... aku baru mengetahui

akan ketegangan yang berbeda

ta masih berlanjut. Ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi keluarga kita. Ak

bukan hanya oleh perasaan sendiri, tetapi juga oleh masalah ekstern

an. Di sana, mereka bertemu Arya, pengacara keluarga, yang tampak serius memeriksa dokumen. "Pak Rizqan, ini situasinya lebih rumit da

ngerti. Kita harus hadapi ini perlahan, tap

ripada yang ia bayangkan. Setiap langkahnya kini harus diperhitungkan, buka

melayang pada Rizqan-tatapannya, senyumnya, dan rasa hangat yang selalu ia rasakan ketika berada dekat dengannya. Namun di sisi

, namun ada senyum tipis yang sulit dibaca. "Laras... aku dengar ada beberapa masalah kel

nya sekadar formalitas. Ada sesuatu yang ia sembunyikan

ng menetes di kaca. Rizqan berdiri di sampingnya, diam.

u takut kalau kita terlalu dekat, terlalu banyak orang

takut. Tapi aku tidak ingin membiarkan ketakutan menghentikan kita. Aku

gan mereka. Bisik-bisik yang sebelumnya samar kini terdengar lebih jelas, menimbulkan tekanan yang terus

kan di pintu. Rizqan masuk, membawa seorang pria muda yang tampak familiar. "

ertemuan singkat mereka beberapa waktu lalu di

ngin mengenalmu lebih baik, jika kau tidak k

ks. Ada perhatian, penilaian, dan juga kemungkinan konflik yang belum ia bayan

yang berkelap-kelip. Ia tahu perjalanan mereka belum berakhir. Ada rahasia, godaan, dan konflik yang men

tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi ia siap, selama Laras mau melangkah bersamanya,

nnya. Ia sadar, meski penuh ketidakpastian, langkah pertama menuju masa dep

atang. Rahasia keluarga, godaan cinta lain, dan dilema moral yang semakin rumit siap menguji cinta dan keteguhan hatiny

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ayah Mertuaku, Musuhku
Ayah Mertuaku, Musuhku
“Setelah kematian tragis suaminya, Laras merasa dunianya runtuh. Namun, keluarganya, terutama mertua, memperlakukannya dengan sangat hangat. Mereka seolah ingin menutupi kesedihan Laras dengan perhatian yang tulus, membuatnya merasa sedikit tenang di tengah duka yang mencekam. Di antara mereka, Rizqan, abang iparnya, selalu hadir dengan senyum yang lembut. Laras selalu mengira itu sekadar perhatian keluarga, tapi lama-kelamaan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di setiap tatapan Rizqan. Ada kehangatan dan kepedulian yang tak biasa, seolah menyembunyikan perasaan yang lebih dalam. Malam itu, hujan turun deras, dan Laras duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap hujan yang membasahi kaca jendela. Rizqan masuk, membawa dua cangkir teh hangat. "Ini, biar hangat," katanya, suaranya lembut dan nada yang lebih dalam dari biasanya. Laras menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rizqan..." suaranya nyaris tak terdengar. Percakapan mereka mengalir begitu saja, ringan tapi penuh makna terselubung. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu, dan tanpa disadari jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Saat larut malam, hujan tak kunjung berhenti, dan suasana menjadi semakin intim. Rizqan duduk lebih dekat, menatap Laras dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan lagi. "Laras... aku... aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi," ucapnya, suaranya nyaris bergetar. Laras menatapnya, hatinya campur aduk antara takut dan rindu. Tanpa sadar, mereka tertarik satu sama lain, dan malam itu, dalam kesunyian rumah yang diterangi lampu redup, mereka membiarkan perasaan yang lama tertahan itu meledak-menghapus duka sejenak dengan kehangatan yang terlarang tapi nyata.”
1 Bab 1 begitu hampa2 Bab 2 membuatnya teringat3 Bab 3 menyesakkan dadanya4 Bab 4 terungkap5 Bab 5 mengancam6 Bab 6 setelah malam yang penuh ketegangan7 Bab 7 Di sisi lain rumah8 Bab 8 merasa damai9 Bab 9 muncul dari arah rumah10 Bab 10 memberikan yang terbaik11 Bab 11 membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat12 Bab 12 Suara serangga malam13 Bab 13 merasa bahagia14 Bab 14 membawa keranjang15 Bab 15 dekatnya yang menenangkan16 Bab 16 Hawa pagi17 Bab 17 sesuatu yang abadi18 Bab 18 danau kecil19 Bab 19 putus asa20 Bab 20 pemeriksaan berlangsung21 Bab 21 menyerahkan22 Bab 22 kecelakaan23 Bab 23 menandakan sesuatu24 Bab 24 Cinta mungkin telah menyatukan mereka25 Bab 25 mertuanya