icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1111    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

antis di puncak tebing. Dia menuangkan segelas sampanye untukku, senyu

a menghantam punggungku. Dunia buyar, hanya ada lang

at pada waktunya untuk mendengar suaranya dari ata

sudah mati?"

a selamat dari situ. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan t

dari benturan apa pun. Dia sudah menulis obituariku, merangka

api kemudian sesuatu yang lain meny

ar dari sebuah mobil mewah. Itu bukan Marco. Itu Julian Suryo, saingan paling dibenci sua

a

edak di belakang mataku. Hal kedua adalah bau tanah basah dan daun pinus yang hancur, aroma yang begitu pekat

n es kecil di kulitku. Di atasku, melalui jalinan dahan-dahan gelap, langit berwarna ungu lebam, bergolak dengan awan badai. Dunia adalah s

ndengar suar

lah suara perempuan, dengan nada manis yang

anpa kehangatan yang telah ia palsukan selama lima tahun. Itu adalah suara seorang p

eh "spesial" yang membuat kepalaku pusing. Dorongan tiba-tiba dan brutal dari belakang. Sensasi jatuh

an ini. Dia

ertahan yang keluar dari bibirku. Tenggorokanku terasa

ngek Chika. "Nanti ada

ia sudah pasti mati. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragi

ran dengan tanah. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku. Suami ya

mesin mobil menyala, dan kemudian derak ban yang menjauh, ditela

ng di sana, membiarkan hujan membasahiku, sebuah boneka rusak yang dibuang di hutan. Tapi kemudian, percikan sesuatu yang lain menyala di kegelapan di

ubuhku, tetapi amarah adalah bahan bakar yang lebih kuat. Aku merangkak melalui semak belukar yang lebat, ranting-ranting tajam dan bebatuan merobek gaunku

g kayu kecil, diukir dengan rumit, permukaannya halus dan anehnya masih bersih meskipun berlumpur. Benda itu terasa padat dan nyata di telap

gguncang tubuhku. Hipotermia mulai menyerang. Aku kalah dalam pertempuran ini. Pandanganku mulai menyempit, tepiannya berubah menjad

ngga berhenti di jalan berkelok-kelok tepat di luar batas pepohonan. Jantungku berdeb

ergerak dengan keanggunan yang meresahkan, seekor predator puncak yang terganggu oleh rintangan di jalannya. Di

a hujan, dan mata berwarna awan badai. Aku kenal wajah itu. Aku pernah melihatnya di majalah, di saluran berita keuangan, dalam tata

gin yang merendahkan. Tidak ada belas

akuan. "Wah, wah. Clara Adijaya. Sepertinya

spresinya tidak melunak. Dia tampak seolah-olah menikmati pemandangan itu. Di

iliki, aku menerjang, jari-jariku mencengkeram kulit halus sepatunya yang mahal, meraih

p tanganku seolah-o

rokanku. Mataku, yang melebar karena teror, te

tu mobil. Dia berdiri di sana, terperangkap antara kebenciannya yang mendalam terhadap suamiku dan bukti kejahatan yang mengerikan da

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
“Suamiku selama lima tahun, Marco, bilang dia akan membawaku piknik romantis di puncak tebing. Dia menuangkan segelas sampanye untukku, senyumnya sehangat mentari. Katanya, ini untuk merayakan hidup kami bersama. Tapi saat aku sedang mengagumi pemandangan, tangannya menghantam punggungku. Dunia buyar, hanya ada langit dan bebatuan saat aku terhempas ke jurang di bawah. Aku terbangun dengan tubuh remuk dan berdarah, tepat pada waktunya untuk mendengar suaranya dari atas. Dia tidak sendirian. Ada Chika, selingkuhannya. "Apa dia... sudah mati?" tanya Chika. "Jatuhnya sangat dalam," suara Marco terdengar datar, tanpa emosi. "Tidak ada yang bisa selamat dari situ. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Clara yang malang, jiwanya tidak stabil, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing." Kata-katanya yang diucapkan dengan santai terasa lebih kejam dari benturan apa pun. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku sambil membiarkanku mati di tengah badai. Gelombang keputusasaan menyapuku, tapi kemudian sesuatu yang lain menyala: amarah yang membara dan dahsyat. Tepat saat pandanganku mulai memudar, sorot lampu mobil menembus hujan. Seorang pria keluar dari sebuah mobil mewah. Itu bukan Marco. Itu Julian Suryo, saingan paling dibenci suamiku, dan satu-satunya pria yang mungkin sama inginnya menghancurkan Marco seperti diriku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10