icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dari Abu: Kesempatan Kedua

Bab 3 

Jumlah Kata:655    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

nya dengan semangat putus a

elajar di luar negeri. Kehidupan baru, awal yang baru. Dia

wakannya sarapan di tempat tidur, mengajaknya berkendara santai di sepanjang pantai, dan dudu

Ibu tirinya memuji pengabdian Bima. "Lihat?" katanya pada Aira dengan

iap beberapa menit. Dia memperhatikan hadiah yang dibawanya-syal sutra dengan warna biru yang disukai Clara, novel karya penuli

erakhir pada su

terbanting terbuka. Bima berdiri di sana, wajahnya topeng ama

kan?" geramnya, be

ya di dalam toples terpentin. "Aku

menggema di ruang yang besar dan lapang i

cap di kulitnya. "Dia di rumah sakit, Aira! Di

tara mereka. Clara mencoba bunuh diri. T

eterkejutan, tidak ada rasa kasihan. Hany

n suara yang mentah dan hancur. "Dan ini salahmu. Kau dan tuntu

h dicintainya, wajahnya berkerut kare

ar dengan kebencian. "Bagaimana kau bisa begitu dingin? Dia

ara dialah yang meninggalkannya terbak

ya Aira, suaranya bisikan yang terlep

tu tidak cukup. Kau akan menebus dosamu. Kau akan menemuiny

nya mengencang, wajahnya hanya

dupmu. Kau akan menjadi pelayannya. Kau akan melakukan a

nta yang dulu dia rasakan. Kenapa? Kenapa, setelah semuanya, kata-katanya masih bisa menyakitinya?

i tepinya. Dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk me

a, kata-kata itu terasa seperti abu.

g dengan keyakinan mutlak. "Clara itu suci. Dia tidak ber

kin kesadaran akan kekejamannya sendiri-melintas di matan

dah ter

h menjadi tawa terbahak-bahak yang diwarnai air mata. Suara itu liar dan tidak

njadi pusaran tak berarti. Hal terakhir yang dilihatnya adalah waj

dunia menj

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dari Abu: Kesempatan Kedua
Dari Abu: Kesempatan Kedua
“Aku pernah mencintai tunanganku, Bima Wijoyo, sejak kami masih anak-anak. Pernikahan kami seharusnya menjadi segel sempurna untuk merger antara dua kerajaan bisnis keluarga kami. Dalam kehidupanku yang lalu, dia berdiri di luar studio seniku yang terbakar bersama kakak tiriku, Clara, dan melihatku mati. Aku berteriak memanggilnya, asap mencekikku, kulitku hangus karena panas. "Bima, tolong! Tolong aku!" Clara bergelayut di lengannya, wajahnya menampilkan kengerian palsu. "Terlalu berbahaya! Nanti kamu terluka! Kita harus pergi!" Dan dia mendengarkan. Dia menatapku untuk terakhir kalinya, matanya dipenuhi rasa kasihan yang lebih menyakitkan dari api mana pun, lalu dia berbalik dan lari, meninggalkanku terbakar. Sampai aku mati, aku tidak mengerti. Laki-laki yang berjanji akan selalu melindungiku baru saja melihatku terbakar sampai mati. Cinta tanpa syaratku adalah harga yang kubayar agar dia bisa bersama kakakku. Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke kamarku. Satu jam lagi, aku harus menghadiri rapat dewan keluarga. Kali ini, aku berjalan langsung ke ujung meja dan berkata, "Aku membatalkan pertunangan ini."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 20