icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Bab 4 Begitu besar

Jumlah Kata:990    |    Dirilis Pada: 06/10/2025

lebih awal. Tapi aku tidak bisa membiarkan diriku malas. Rumah ini bukan hanya milik kami berdua lagi. Ayah mertuaku telah tinggal di sini itu bebera

dari jendela kecil, membias di lantai yang dingin. Biasanya aku akan langsung masuk dapur

ar

... suara napas. Berat. Terputus-putus. Lalu terdengar desahan rendah, s

yang menempel langsung di dapur. Dengan ragu aku melangkah me

, kali ini lebih jelas. Bukan des

yu yang sudah mulai keropos di pinggirnya. Aku

tme yang tak biasa. Irama napasnya pelan, lalu menin

, tapi karena syok. Karena panik. Karen

at ke dalam jika aku menunduk sedikit. Aku tahu aku tidak boleh melakukanny

ditahan, ak

mbelakangi pintu. Telanjang. Tangan kanannya menggenggam kejantanan nya yang ukurannya me

a dalam, seperti gumaman yang se

, meskipun aku tahu ini salah. Pandanganku tertuju pada gerakanny

di antara desahan terputus-putus. Tubuhnya bergu

am tubuhku, entah jijik, takut, ata

dengar, lebih keras, lebih dalam

aahhh...

an mata, mencoba menenangkan napas. Tapi bayangan tadi tak pergi. Bahkan saat aku berjal

itu membuatku muak pada diri sendiri. Aku menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menenangkan napas yang

ci dan peralatan yang bahkan belum kusentuh. Tanganku masih gemetar saat mengambil sendok, lalu kuaduk udara kosong di atas wajan, hanya

i. Setiap hentakan seolah mendekat ke arahku. Jantungku berdetak tak karuan, dada terasa sesa

menoleh sedikit. Tubuhnya hanya tertutup celana pendek, kulitnya basah dan berkilau karena air y

nyaris patah. "Ayah kenapa mandi

makin dekat. "Dan pintu kamar mandi dapur juga

balasku cepat. Aku berbalik menuju

k bergerak banyak, tapi matanya tertuju padaku. Aku tahu. Sudah

sana. Aku sadar sedang diperhatikan, dan aku mencoba untuk tetap terlihat biasa. Tapi itu sulit. Apalagi setelah apa yang kulihat tadi di kamar man

ang lain. Rasa aneh yang muncul tanpa bisa kutolak. Seperti ingin menghindar, tapi tubu

an tubuhku cukup menarik perhatiannya. Aku merasa tidak nyaman menyadari itu, tapi

ayah mertua. Bu

angkan. Jantungku masih berdetak cepat. Lebih cepat dari biasa

up, Ayu? Apa enggak ny

rhenti sejenak. Aku tidak langsung menjawab. Aku tari

. Cuma agak kaget aja," jaw

ku hanya berharap dia berhenti melihatku seperti itu. Tapi

kamar mandi," tanyanya tiba-tiba yang me

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Puncak Nafsu Ayah Mertua
“Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.”
1 Bab 1 Suamiku lemah syahwat2 Bab 2 Nikmat nya Istriku3 Bab 3 Mertuaku yang perkasa4 Bab 4 Begitu besar5 Bab 5 Izin Menikah lagi6 Bab 6 Sentuhan ayah mertuaku7 Bab 7 Desahan kenikmatan8 Bab 8 Kenikmatan yang tak pernah ku dapatkan.9 Bab 9 Rasa nikmat yang ingin aku dapatkan.10 Bab 10 Goyangan yang membuatku gila11 Bab 11 Hentakan yang membuatku terbang12 Bab 12 Permainan panasku13 Bab 13 Goyanganku14 Bab 14 Genjotaku membuat nya puas15 Bab 15 Kamar rahasia ayah16 Bab 16 Permainan nakal yang aku sukai17 Bab 17 Alat yang membuatku bergetar18 Bab 18 Kejantanan yang membuatku bergetar19 Bab 19 Part 3120 Bab 20 Di atas enak21 Bab 21 Tangan nakal nya22 Bab 22 Di dapur23 Bab 23 Suamiku pulang