icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Bab 5 Izin Menikah lagi

Jumlah Kata:1193    |    Dirilis Pada: 06/10/2025

k. Tatapannya menelusup tajam ke mataku, seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan rahasia yang selama ini kututup rapat. Sejenak aku merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Nam

anpa menambah kalimat lain. Langkah-langkahnya terdengar berat menapaki tangga menuju lantai dua, berderit pelan di setiap pijakan. Aku mendengarkan sampai suara langkah itu menghilang sepenuhnya di atas

an, tapi kali ini malah terasa pengap, seolah memenuhi seluruh kepalaku. Aku mencoba kembali fokus. Tanganku mengambil sayuran satu per satu, memotongnya dengan pisau yang bergetar di genggaman. Suara

anku bukan lagi sekadar memasak, melainkan cara untuk menahan tangis. Aku menggosok-gosok telapak tanganku yang dingin, tap

lakukan setiap hari: nasi hangat di piring besar, lauk yang berjejer, sup di mangkuk. Aku menatap hasil kerjaku lama-lama, menunggu rasa puas itu muncul. Tapi tak ada apa-apa selain lelah yang mengendap di tubuhku. Ra

kursi tanpa bicara, lalu duduk di meja makan. Tangannya langsung menyendok nasi, menyuap makanan

eperti benteng yang tak bisa kutembus. Aku ingin bicara, ingin sekadar bertanya apakah ia lelah atau bagaimana harinya. Tapi bibirku kelu. Kata-kata terasa seperti batu yang tertahan di tenggorokanku

utnya begitu saja. Dingin dan datar. "Aku mau keluar

keheningan di antara kami. Aku menatapnya tak percaya. Bibirku bergetar, mata

belum bisa berikan aku apa-apa. Kamu pikir aku mau terus kayak gini?" katanya sambil melanjutkan makannya. Nada suaranya din

ci. Mataku mulai panas, dan tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Aku tidak berusaha menyembuny

ret serpihan diriku yang patah. Dinding-dinding rumah ini yang dulu terasa hangat kini seperti menyempit, menjepitku dari segala sisi. Sesampai

mata tak berhenti mengalir. Semua kekuatan yang kutahan selama ini akhirnya runtuh seketika. Rumah ini tak lagi

han. Suara detak jantungku terdengar keras di telingaku sendiri. Udara terasa tipis. Setiap tarikan

tik kecil. Tapi di tengah sesak yang membakar dadaku, sesuatu perlahan berubah. Tangisku makin lama makin pelan, b

uh bara. Aku sadar, apa pun yang sudah dia lakukan selama ini, sudah melewati batas. Semua luka, semua hinaan, semua tatapa

t. Aku sadar kalau aku pergi, kalau aku menyerah, yang bahagia justru dia. Dia akan bebas,

u yang baru. "Aku akan tetap jadi istrimu, Leo," gumamku dalam hati. "Aku akan tetap di sisimu. Dan

lirih, suaraku nyaris tak terdengar tapi p

tapi di balik itu ada sesuatu yang berbeda. Ada api yang menyala pelan-pelan. Aku bukan hanya istri

ncul kekuatan yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku akan tetap tinggal. Aku akan tetap menjadi istrinya.

tulan wajahku yang sembab. "Aku tidak akan kalah," gumamku. Dan untu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Puncak Nafsu Ayah Mertua
“Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.”
1 Bab 1 Suamiku lemah syahwat2 Bab 2 Nikmat nya Istriku3 Bab 3 Mertuaku yang perkasa4 Bab 4 Begitu besar5 Bab 5 Izin Menikah lagi6 Bab 6 Sentuhan ayah mertuaku7 Bab 7 Desahan kenikmatan8 Bab 8 Kenikmatan yang tak pernah ku dapatkan.9 Bab 9 Rasa nikmat yang ingin aku dapatkan.10 Bab 10 Goyangan yang membuatku gila11 Bab 11 Hentakan yang membuatku terbang12 Bab 12 Permainan panasku13 Bab 13 Goyanganku14 Bab 14 Genjotaku membuat nya puas15 Bab 15 Kamar rahasia ayah16 Bab 16 Permainan nakal yang aku sukai17 Bab 17 Alat yang membuatku bergetar18 Bab 18 Kejantanan yang membuatku bergetar19 Bab 19 Part 3120 Bab 20 Di atas enak21 Bab 21 Tangan nakal nya22 Bab 22 Di dapur23 Bab 23 Suamiku pulang