icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Bab 3 Mertuaku yang perkasa

Jumlah Kata:1037    |    Dirilis Pada: 06/10/2025

V

sak oleh campuran bingung dan kagum. Daster tipis yang kugunakan melekat di t

ngan halus di kulit kecokelatan. Ia hanya mengenakan celana panjang, dan bagian atas tubuhnya telanjang sepenuhnya. Perutnya kenc

mengalihkan pandangan. Tapi tatapan

kecil dan berkata, "K

juga tidak terlalu akrab. Tapi cukup untuk membuatk

a mengembalikan kontrol pada

wabku. "S

npa bercermin pun aku tahu bentuk tubuhku, dadaku, lekuk pinggangku, semuanya nyaris tak tersamarkan. Tapi

ku menikah sama Leo, aku cuma pernah lihat

karena itu wajahmu masih terasa asing. Tapi aku pulang tadi sore, dan su

u terasa kaku. "Enggak apa-apa. Ini kan rumah Ayah

membuatku ingin menunduk, tapi ent

sih," jawa

i keran. Tapi keheningan itu bukan yang membuatku tak nyaman. Justru keha

k ada yang menyentuh sejak terakhir," kataku cepat-cepa

lan, lalu menatapku cuku

masih ingin d

pi terasa ada sesuatu yang tidak terlihat ikut duduk di tengah-tengah ruang itu. Tatapan matanya

. Ia masih belum mengenakan atasan, dan aku bodoh karena terus mengizinkan diriku mencuri pandang. Aku berusaha keras mengalihkan fokus, tapi lengan k

ak tadi berusaha menjaga jarak, pikiranku justru seperti tertarik perlahan, tenggelam ke dalam cara

an nada santai, tapi matanya tetap memperhatikanku, se

, dia ke rumah temannya. Katanya mungkin menginap di sana," jawabku pelan

a, lalu meletakkannya perlahan di atas meja. Tangannya besar, kukunya rapi, ger

elasku, berharap rasa dingin itu bisa m

dulu ya," ucapku sambil m

dangannya masih mengikutiku sampai aku meninggalkan ruangan. Punggu

Bukan karena takut. Tapi karena rasa yang tak bisa kutafsirkan, mengendap di antara di

enangkan perasaan yang bergolak di dalam diriku. Bayangan tubuh ayah mertuaku menempel jelas di pikiranku. Dada bidangnya. B

u sebaliknya, hangat, lembap, dan berdenyut. Di sana, masih ada sisa dari permainan panas su

kiranku... tapi justru semakin jelas, semakin dekat. Aku bahkan bisa membayangkan ba

n tubuhku langsung merespons. Aku mendesah lirih. Napasku mulai tak teratur, dan hatiku b

inginan yang tak terucapkan, membuatku semakin berani menekan, menyentuh lebih dalam. "Ah..." helaan itu lo

hnya menindihku, bisa mencium aroma kulitnya yang entah bagaimana terasa begitu dekat. Ak

ecah. Jemariku terus menari, meniru bayangan yang menggoda di dalam pikiranku, dan saat akhirnya aku mencapai

rasa bersalah. Tapi lebih dari itu... aku takut. Takut karena aku ta

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Puncak Nafsu Ayah Mertua
“Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.”
1 Bab 1 Suamiku lemah syahwat2 Bab 2 Nikmat nya Istriku3 Bab 3 Mertuaku yang perkasa4 Bab 4 Begitu besar5 Bab 5 Izin Menikah lagi6 Bab 6 Sentuhan ayah mertuaku7 Bab 7 Desahan kenikmatan8 Bab 8 Kenikmatan yang tak pernah ku dapatkan.9 Bab 9 Rasa nikmat yang ingin aku dapatkan.10 Bab 10 Goyangan yang membuatku gila11 Bab 11 Hentakan yang membuatku terbang12 Bab 12 Permainan panasku13 Bab 13 Goyanganku14 Bab 14 Genjotaku membuat nya puas15 Bab 15 Kamar rahasia ayah16 Bab 16 Permainan nakal yang aku sukai17 Bab 17 Alat yang membuatku bergetar18 Bab 18 Kejantanan yang membuatku bergetar19 Bab 19 Part 3120 Bab 20 Di atas enak21 Bab 21 Tangan nakal nya22 Bab 22 Di dapur23 Bab 23 Suamiku pulang