icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahan Tanpa Cinta 21+

Bab 2 Luka yang Tak Pernah Sembuh

Jumlah Kata:580    |    Dirilis Pada: 27/08/2025

a yang Tak

ya yang kosong dari notifikasi. Sudah seminggu sejak malam itu. Seminggu sejak penga

lu berangkat kerja tanpa pamit. Sepanjang minggu, mereka hampir tidak bicara, kecuali soal logistik r

i belum dia jawab. Bukan karena dia tidak ingin bicara, tapi karena dia sendiri belum tahu harus mengatakan apa. Galvin tidak tahu ten

a. Bagaimana jika bayi ini anak Radit? Apakah lelaki itu akan tetap dingin dan jauh? Atau, bagaimana

ang lebih cepat dari biasanya. Jam

r hari ini?" tanyany

h istirahat," ja

k di kursi seberangnya. Ada jeda aneh dalam gerakannya, seperti

ngan," katanya akhirnya. "K

ngguk. "Kam

a sebentar. "Ku

u banyak kebingungan. "Harus" karena tanggung

sa tes DNA pas bayi lahir nanti. B

ya. Suaranya mulai bergetar. "Tapi k

akan p

Aku cuma nggak mau hidup di rumah yang penuh kemarahan dan keti

marinya mengetuk p

kalau saja kita ketemu di kondisi yang berbe

Radit bicara tentang 'jika saja'. Tentang k

ah sama aku?" ta

b Radit jujur. "Kita terlalu sibuk membenci tak

air matanya. Bukan karena gengsi, tapi karena tangis

yari cinta di luar, karena aku pikir

, di tengah semua kehancuran itu, dia merasa sedang duduk di depan seseorang

, ya. Sama-sama

. Meski retak, senyum itu adalah awal. Awal dari perjalanan

menyambut dua hati yang, meski penuh luka, masih mencoba berta

m Pe

rk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
“"Radit..." Tasya menaruh sendok dengan hati-hati ke piring. "Hm?" "Aku hamil." Suara sendok Radit berhenti berdenting. Dia menoleh pelan, menatap mata istrinya untuk pertama kali malam itu. Wajahnya tidak menyimpan kegembiraan, juga tidak marah. Hanya bingung. Atau takut? "Hamil?" ulangnya, seolah tak percaya telinganya. Tasya mengangguk pelan. "Dua bulan." Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Bunyi jam dinding terdengar seperti detak bom waktu. Radit menatap istrinya lebih lama dari biasanya. "Anak siapa?" tanyanya akhirnya.”