icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahan Tanpa Cinta 21+

Bab 3 Pilihan yang Mengguncang

Jumlah Kata:567    |    Dirilis Pada: 27/08/2025

lihan yang

menuangkan kopi ke dua cangkir, satu untuknya, satu lagi ia geser pel

k mereka berdua. Tidak ada tatapan sinis, tidak ada saling dia

uluh, ya?" tanya Tasya sambil

jadwal meeting hari ini. Nanti ki

ena keduanya masih menata ulang keberanian mereka untuk menghadapi keny

pur. Saluran pagi itu menayangkan iklan layanan masyarakat tentang kesehatan reproduksi, namun tak lama kemudian be

anan kehamilan yang belum siap.

enyum dengan latar klinik putih bers

uasana menjadi berbeda. Suara iklan itu menggantung di udara, seperti s

atu pun berbicara, tapi mata

pikir?" tanya Radit akhir

ggak tahu. Tapi... iklan itu mun

siap. Kita bahkan nggak tahu siapa ayahny

enar. Dan lebih dari itu, dia sendiri belum siap menjadi ibu, a

ini malah tumbuh di tengah kebencian. Di antara dua o

dangi cangkir kopinya, seolah berhar

ke dokter," lanjut Tasya.

anya?" potong Rad

a menyembunyikan keraguan. "Mungkin ini y

Hatinya ingin menolak gagasan itu, tapi pikirannya mengatakan itu mung

itu, nggak ada j

gangguk.

. Mobil-mobil bergerak seperti biasa. Kota tetap sibuk. Dunia tetap berputar,

berarti kita menyerah to

dari kursinya,

anya lirih. "Pernikahan ini... hidup kita... sem

"Tapi anak ini bel

ta, menahan air mat

makin hancur, kamu bisa janji nggak bakal nya

dia menunduk, karena di sen

m Pe

rk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
“"Radit..." Tasya menaruh sendok dengan hati-hati ke piring. "Hm?" "Aku hamil." Suara sendok Radit berhenti berdenting. Dia menoleh pelan, menatap mata istrinya untuk pertama kali malam itu. Wajahnya tidak menyimpan kegembiraan, juga tidak marah. Hanya bingung. Atau takut? "Hamil?" ulangnya, seolah tak percaya telinganya. Tasya mengangguk pelan. "Dua bulan." Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Bunyi jam dinding terdengar seperti detak bom waktu. Radit menatap istrinya lebih lama dari biasanya. "Anak siapa?" tanyanya akhirnya.”