icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pernikahan Tanpa Cinta 21+

Pernikahan Tanpa Cinta 21+

Penulis: darkcom
icon

Bab 1 Dua Garis Biru

Jumlah Kata:561    |    Dirilis Pada: 27/08/2025

Dua Ga

naruh sendok dengan

H

ham

ap mata istrinya untuk pertama kali malam itu. Wajahnya tidak me

a, seolah tak pe

gguk pelan.

am dinding terdengar seperti detak bom waktu. R

a?" tanyan

t. Dia bahkan sudah menyiapkan jawabannya, tapi justru b

idak

dia bersama Galvin. Tapi dua hari sebelumnya, secara tak sengaja, dia dan Radit tidur Bersama, satu-satunya mala

hanya penuh kabut. Apakah ini karma karena mengkhianati p

as air putih yang tersisa di atas meja. Dia

ahnya," ucapnya, lebih sebagai

dia tahu dia pantas disalahkan. Sama

keluar dari rumah ini malam ini juga

s. "Keluar ke mana

wa Sheila masuk k

berubah tegang. Suara Tasya terla

dari awal," lanjut Tasya. "Kita ini dua orang asing yang dipaksa hidup ser

berdiri di ambang, membiarkan angin malam masuk. Jakar

up seperti ini

lani pernikahan ini. Pura-pura bahagia, pura-pura mencintai. Ta

yawa di dalam tubuhku. Dan dia nggak minta

? Kepada Tasya? Dirinya sendiri? Atau orang tua mereka yang menulis

a tunggu sampai bayi lahir," u

ah itu, kita te

ntah lega, entah justru l

gar. "Kalau ternyata ini anakmu... kamu mau tetap j

terdia

bahkan nggak tahu gimana carany

asih datar. Tapi di sana ada kehidupan. Nyawa kecil yang tumbuh di tengah

alam itu, mereka tidur di ranjang yang sa

di dalam kamar itu, satu rahasia baru s

m Pe

rk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
Pernikahan Tanpa Cinta 21+
“"Radit..." Tasya menaruh sendok dengan hati-hati ke piring. "Hm?" "Aku hamil." Suara sendok Radit berhenti berdenting. Dia menoleh pelan, menatap mata istrinya untuk pertama kali malam itu. Wajahnya tidak menyimpan kegembiraan, juga tidak marah. Hanya bingung. Atau takut? "Hamil?" ulangnya, seolah tak percaya telinganya. Tasya mengangguk pelan. "Dua bulan." Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Bunyi jam dinding terdengar seperti detak bom waktu. Radit menatap istrinya lebih lama dari biasanya. "Anak siapa?" tanyanya akhirnya.”