icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Why not!

Bab 4 Bujukan Almer

Jumlah Kata:1536    |    Dirilis Pada: 23/11/2021

h kontrakannya. Tak perlu lama untuk bisa menebak, itu pasti Noah

elirik ke Amara. "Dijawab Bun telfonnya, siapa tau

ara lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Ponsel itu terus berb

at malam,"

mara?" tanya sua

siapa?" tanya

Apa Ama

a saya sampaikan ke Bunda." Bari bersandar di

ni

tersebut berde

an siapan

naknya. Apa ada pesan, nant

memutuskan percakapan. Bari meletakkan ponsel. Ia kembali

eritahu jika tadi Noah menelfon. Amara tertawa saat B

ma laki-laki lain." Bari begitu emosi, ia masiu tak tahu jika kedua orang tuanya bercerai. Amara j

buat kita jual, Bunda juga udah dapat lokasi bazarnya, di car free day. Nanti kita da

wa di sa

ara mulai menyalakan laptop, jemarinya mulai mencari-cari barang dagangan. Ia tak perduli jika terkesan gila bekerja atau gila me

*

g kantor tempat Amara bekerja. Ia terus menat

kedua mata Kakak laki-lakinya itu. Wanita dengan rambut panjang dengan ujung rambut di

erusahaan pembiayaan kedaraan. Mau baru atau bekas tangan pertama, juga bisa. DPnya Kakak yang bayar ya, kamu yang bayar cicilan setiap bulannya. Ambil

urun ke lapangan, juga naik taksi

tetap menjadi sifatnya. Ia menge

s? Sampai tiga puluh juta?" ta

urvey langsung ke showroom mobilnya, ya?" raut wajah Almer ber

yang selalu Amara malas untuk membahasnya. Dengan raut wajah sedikit merengut, Amara hanya diam. Al

edua matanya mengarah pada satu sosok pria yang baru saja datang dan berjalan masuk sambil tersenyum rama

suka? Perlu aku tanyain namanya? Ka

ah di besar-besarin, Kak. Itu tadi, pertanyaan aku belum dijawab

punya adik lagi di usia mereka yang udah belasan tahun. Kamu tau, Dinda sampai ngambek ke aku,

beli, aku harus ke kantor pemasaran, takut macet." Ia beranjak, Almer juga ikut beranjak. Amara meraih jemari

eluar kedai kopi, sedikit berlari untu

*

Ibu ya, untuk saya isi berkasnya," ucap Amara kepada sepasang suami istri yang tampak sudah usia lanjut. San

um punya rumah, jadi ... kami mau membelikan untuk m

ama suami saya pingin anak-anak punya rumah, mereka semua sudah menikah. Anak saya empat, tapi tinggal yang satu ini belum punya rumah. Biar lah, kita yang ambilkan, ya

anak kami ini yang mau memakainya, demi cucu-cucu saya juga, kasih

Mbak Amara, kok, kenapa di sikut?"

nya. Saya ikut senang dengarnya, mudah-mudahan, kedepannya tidak jadi masalah y

Mbak Amara, bentuk perhati

erian Ibu dan Bapak. Saya, juga tinggal di rumah kontrakan petak lho, Bu, sama anak saya, dan kami bahagia. Mudah-mudahan, anak Ibu juga bahagia walau tin

ak dengan suaminya yang menganggukan kepala

*

an untuk memudahkan aktifitas wanita itu. Adu argumen pun tak terelakan, dengan Amara yang merasa ia baik-bai

i kalau hujan, dan kalian harus buru-buru ke suatu tempat. Ra, dengerin Kakak, jangan terus bertahan sama prinsip dan ego

laki-laki lain, tapi, ini untuk hal lain dan demi Bari.

u repotin, Kak Almer, suatu hari aku juga akan beli sendiri, a

y, kamu akan repot siapin semua. Please, jangan egois untuk kali ini. Aku tinggal b

ni, deh, Kak, sambil

enang karena kamu bisa kasih hal itu. Ibu sama Ayah juga berpikiran yang sama kayak aku, Dita juga, malah dia minta

tak lama, suara rintik hujan terdengar. Ia sedang duduk di teras kecil depan kontrakannya saat berbicara dengan Almer. Ia b

ana? Mau disiapin buat besok pag

erus-terusan begini?"

." Amara terus keras kepala. Hingga Almer hany

ambu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Why not!
Why not!
“Amara, single parent berusia 35 tahun yang berubah menjadi pribadi egois, dingin, bahkan meremehkan setiap pria yang ingin mendekatinya hanya karena ia pernah gagal dalam pernikahan. Tuntutan hidup membuatnya berusaha keras untuk bangkit dan membuktikan diri setelah berpisah dengan mantan suaminya. Masalahnya, saat ini bukan hanya tuntutan hidup saja yang harus dihadapi Amara, tapi tuntutan dari putranya juga. Bayinya sudah tumbuh besar dan sangat merindukan sosok seorang ayah. Demi kebahagiaan putra semata wayangnya, jelas ia tak mudah untuk mengacuhkannya begitu saja. Hingga seorang pria penuh pesona tiba-tiba datang mendekat, membuat pertahanan Amara goyah secara perlahan seperti doa sang putra. Mampukah pria asing ini meluluhkan hati keras seorang Amara atau, justru Amara memilih tetap sendiri tanpa pendamping dan mencoba meyakinkan putranya?”
1 Bab 1 Cerai2 Bab 2 Pekerjaan baru3 Bab 3 Egois4 Bab 4 Bujukan Almer5 Bab 5 Berlalunya waktu6 Bab 6 Sedingin Es7 Bab 7 Saya Dani 8 Bab 8 Pandangan pertama9 Bab 9 Mendadak luluh10 Bab 10 Modus Dani11 Bab 11 PDKT 12 Bab 12 Kepergian mantan suami13 Bab 13 Jadian 14 Bab 14 Zeya, Putriku15 Bab 15 Penolakan Zeya16 Bab 16 Tiba-tiba melamar17 Bab 17 Cerita dibalik lamaran mendadak18 Bab 18 Kepulangan Sherin19 Bab 19 Sikap tenang Amara20 Bab 20 Berbohong21 Bab 21 Permohonan Sherin22 Bab 22 Melepaskan cincin 23 Bab 23 Big brother24 Bab 24 Keangkuhan Amara25 Bab 25 Gencatan senjawa dua wanita26 Bab 26 Kondisi Zeya 27 Bab 27 Tuduhan 28 Bab 28 Kesempatan kedua29 Bab 29 Its over 30 Bab 30 Why not!31 Bab 31 Lima tahun 32 Bab 32 Berjumpa kembali 33 Bab 33 Menjelaskan semuanya34 Bab 34 Me and my big brother35 Bab 35 Pantas bahagia36 Bab 36 Wedding day37 Bab 37 Hadiah untuk Amara