bersama ayah mertua. Vita terkejut meskipun sebenarn
e arah yang lebih jauh," kata Vita. "Tapi
juga ga
amu sen
n sih
a lagi, kalian pa
omongnya,
sebenernya
u malu untuk
tuh juga pengin, cuma mungk
kok. Kayaknya dia takut. Buktiny
t," kata Vita. "Soalnya risikonya b
tu
kalo udah jadi ML." Ia langsung tert
Iwan dengan mengejutkan meminta ijin kepadaku untuk ke kota. Ia berenc
i sana 3 hari,
. Sebenarnya pertanyaan itu h
ya habis. Mumpung sekara
mu saja, Mas. Hati-ha
a-apa, bilang saja ke bapak," kata suamik
kan punya waktu berdua dengan ayah. Ada perasaan sedih karena aku sudah membohongi suamiku
jah ayah tampak berseri-seri begitu mengetahuinya. Ia tidak bisa menutupi
mah, yang kupikirkan bukan suamiku melainkan ayah mertua. Apakah benar hal itu aka
makan untuk ayah. Ayah makan dengan lahap. Selama itu tidak ada obrolan atau sikap yang me
benar-benar tidak berani melangkah jauh. Mungkin dia masih mempetimbangkan Mas Iwan, anaknya. Ia t
uara ayah dari luar
iya,
ar dan kudapat
leh mint
a, yah? Apa ayah
egel nih," jawabnya. "Boleh
adi gugup untuk menjawabnya. "Ak
tunggu di
ya
akah ini cara ayah untuk mengajakku melangkah lebih jauh? Atau ayah benar-benar ingi
ggu sambil berbari. Dia sudah tidak mengenakan baju dan hanya sarung yang
it," katanya. "Apalagi
a,
sudah
pertinya kecapean ga
olesi minyak dan kemudian aku urut perlahan. Sebenarnya aku tidak terlal
menguru bagian paha. Bagian pahanya tertutu
a," kata ayah seolah
u. Jadinya, ia yang akhirnya menyingkap sendiri sarungnya ke atas hingga memperlihatkan bagi
at kontol itu lagi,
ulu cukup banyak itu. Paha ayah sangat keras. Mungkin karena setiap hari bekerja di sawah. Aku mengurutnya secara bergantian. Tapi aku tetap
e bagian pantat,
mnya aku belum pernah mengurut pantat bahkan milik suamiku sendiri. Sungguh aneh rasanya. Aku pu
. "Ayah mau ke kamar mandi
a,
hat kontolnya sudah mengeras meskipun belum sepenuhnya. Ia la
sarung aja
u dilanda kebingung
s sejak tadi. Sepertinya ayah sengaja melakukan ini padaku. Ia langsung kembali naik ke ata
ngurutnya. Dada ayah tampak bidang dan juga keras. Perlahan aku m
ku terdiam. Jika aku turunkan lagi, maka
menuntun tanganku meraih kontolnya. Aku meliha
ng, Rin."
lebih tepatnya mengocok dengan perlahan. Kurasakan kontol ayah sudah mengeras dan tegang. Bent
asuk dari bagian bawah daster dan terus naik ke bagian paha. Ayah mulai m
udah mencium bibirku. Aku sedikit kaget dengan keberanian ayah, tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Ayah mengecup bibirku perlahan.
tatku. Aku sendiri merasakan kontolnya menempel di bagian perutku. Kontol itu sudah sangat k
melepaskan dasterku. Selanjutnya ia membuka BH-ku dan terakhir ia
ulai memberanikan diri untuk meraih kontolnya. Ah, kontol ayah sudah sangat keras dan tegang. Aku mulai melakukan kocokan kecil pada kontolnya itu. Dari pantat, tangan ayah beralih k
Tak lama, ciuman itu turun ke leher dan terus ke bagian dada. Sampai di dada, ayah langsung melaha
in tidak tahan un
sam
/0/24873/coverbig.jpg?v=da57b575ae58bf9cdefda3f3020db8e7&imageMogr2/format/webp)