icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Liar Ayah Mertua

Bab 6 Part 06

Jumlah Kata:1311    |    Dirilis Pada: 15/06/2025

bersama ayah mertua. Vita terkejut meskipun sebenarn

e arah yang lebih jauh," kata Vita. "Tapi

juga ga

amu sen

n sih

a lagi, kalian pa

omongnya,

sebenernya

u malu untuk

tuh juga pengin, cuma mungk

kok. Kayaknya dia takut. Buktiny

t," kata Vita. "Soalnya risikonya b

tu

kalo udah jadi ML." Ia langsung tert

Iwan dengan mengejutkan meminta ijin kepadaku untuk ke kota. Ia berenc

i sana 3 hari,

. Sebenarnya pertanyaan itu h

ya habis. Mumpung sekara

mu saja, Mas. Hati-ha

a-apa, bilang saja ke bapak," kata suamik

kan punya waktu berdua dengan ayah. Ada perasaan sedih karena aku sudah membohongi suamiku

jah ayah tampak berseri-seri begitu mengetahuinya. Ia tidak bisa menutupi

mah, yang kupikirkan bukan suamiku melainkan ayah mertua. Apakah benar hal itu aka

makan untuk ayah. Ayah makan dengan lahap. Selama itu tidak ada obrolan atau sikap yang me

benar-benar tidak berani melangkah jauh. Mungkin dia masih mempetimbangkan Mas Iwan, anaknya. Ia t

uara ayah dari luar

iya,

ar dan kudapat

leh mint

a, yah? Apa ayah

egel nih," jawabnya. "Boleh

adi gugup untuk menjawabnya. "Ak

tunggu di

ya

akah ini cara ayah untuk mengajakku melangkah lebih jauh? Atau ayah benar-benar ingi

ggu sambil berbari. Dia sudah tidak mengenakan baju dan hanya sarung yang

it," katanya. "Apalagi

a,

sudah

pertinya kecapean ga

olesi minyak dan kemudian aku urut perlahan. Sebenarnya aku tidak terlal

menguru bagian paha. Bagian pahanya tertutu

a," kata ayah seolah

u. Jadinya, ia yang akhirnya menyingkap sendiri sarungnya ke atas hingga memperlihatkan bagi

at kontol itu lagi,

ulu cukup banyak itu. Paha ayah sangat keras. Mungkin karena setiap hari bekerja di sawah. Aku mengurutnya secara bergantian. Tapi aku tetap

e bagian pantat,

mnya aku belum pernah mengurut pantat bahkan milik suamiku sendiri. Sungguh aneh rasanya. Aku pu

. "Ayah mau ke kamar mandi

a,

hat kontolnya sudah mengeras meskipun belum sepenuhnya. Ia la

sarung aja

u dilanda kebingung

s sejak tadi. Sepertinya ayah sengaja melakukan ini padaku. Ia langsung kembali naik ke ata

ngurutnya. Dada ayah tampak bidang dan juga keras. Perlahan aku m

ku terdiam. Jika aku turunkan lagi, maka

menuntun tanganku meraih kontolnya. Aku meliha

ng, Rin."

lebih tepatnya mengocok dengan perlahan. Kurasakan kontol ayah sudah mengeras dan tegang. Bent

asuk dari bagian bawah daster dan terus naik ke bagian paha. Ayah mulai m

udah mencium bibirku. Aku sedikit kaget dengan keberanian ayah, tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Ayah mengecup bibirku perlahan.

tatku. Aku sendiri merasakan kontolnya menempel di bagian perutku. Kontol itu sudah sangat k

melepaskan dasterku. Selanjutnya ia membuka BH-ku dan terakhir ia

ulai memberanikan diri untuk meraih kontolnya. Ah, kontol ayah sudah sangat keras dan tegang. Aku mulai melakukan kocokan kecil pada kontolnya itu. Dari pantat, tangan ayah beralih k

Tak lama, ciuman itu turun ke leher dan terus ke bagian dada. Sampai di dada, ayah langsung melaha

in tidak tahan un

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Liar Ayah Mertua
Gairah Liar Ayah Mertua
“Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?”