icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Liar Ayah Mertua

Bab 5 Part 05

Jumlah Kata:1416    |    Dirilis Pada: 15/06/2025

juga, ingatan soal ayah mertua yang mengintip juga ada di pikiranku. Pasti ayah sedang mengocok kontolnya. Ah, kontol itu. Kontol yang sangat ingin aku rasakan. Tiba-tiba saja

ara bergantian. Lidahnya juga berputar-putar di ujung puting sambil sesekali melakukan gigitan kecil. Aku

h...." desah

Aku jadi makin tidak keruan melakukan goyangan pinggulku. Pinggul

p membayangkan bahwa yang ada di atasku adalah ayah mertuaku. Sampai akhirnya, aku merasakan kontol Mas Iwan makin kuat keluar masuk dan ak

ah Mas Iwan me

ng dipenuhi dengan pejuh Mas Iwan. Posisiku menghadap ke gedek samping rumah. Ayahku pasti sedang mengintip d

aku sedang tidak di masa suburku. Biasanya jika di masa sub

sudah berangkat, ayah datan

lem," kata ayah. "Semalem m

ab 'sama-sama'. Bukannya ini hal yang salah? Itu sama saja aku membenarkan

gi," lanjut ayah.

a aku malu

jawab ayah. "Hitung-h

u apa

ayah cara p

awab dan hanya

kali-kali coba main

Masa mau main

mbah ber

ah ada-

mu tambah seneng. Percaya aja sama ay

kini jadi penasaran. Benarkah? Aku coba mengutaraka

. "Kita kan tinggal sama ayah. Kal

tidak tahu bahwa ayah sudah tahu semu

~

wah. Pada saat di sana, kami banyak mengobrol termasuk s

ma mengintip kamu waktu m

yah melak

mpiasan. Satu-satunya cara ya dengan mengocok. Untuk merangsang

h," jawabku. "Ayah ng

juga muncrat ke gedek kalo sudah tidak ku

ku bole

. Tany

h ngintip aku wa

sejenak. "Juj

juga mengaku, "Jujur, Yah, aku juga per

perti terkejut. Tapi tampak rau

bekas sperma ayahnya. Ternyata benar. Ada bekas seperti muncratan yang sudah mengering. Aku langsung terba

~

idak ada rasa malu lagi di antara kami. Bahkan satu per satu

u tanya sesua

a apa

k kamu bay

yangin gim

n yang nakal-n

h bertanya seperti ini? Apakah ini sengaja dilakukan oleh ayah? Tapi aku tidak mu

awab dengan an

juga sering bayangin kamu kok. Ayah ser

apa. Di satu sisi aku merasa malu, tapi di sisi la

ngocok sambil lih

mbuat perminataan yang nakal. Apakah ini strategi ayah? Aku bingung harus mengiyakan

aku tidak bisa berbohong te

i saat suamiku baru berangkat kerja. Awalnya ayah yan

" kat

a,

rmintaan ayah k

akukan persiapan apa-apa. Maksudku, meskip

ang?"

amimu sudah

ekalian aku ma

nggu di kamar

mengambil handuk dan segera ke kamar ayah.

sini aja, Ri

masih tertutup BH dan celana dalam. Kulihat ayah mulai menyingkap sarungnya. Lalu tampaklah kontolnya yang mulai mengeras. Perlahan ia mulai m

umu dong, Ri

emandangan itu juga membuatku bernafsu. Aku jadi semakin semangat memainkan payudaraku sendiri. Aku juga tidak lupa memain

" kata ayah. "Aku pen

. Tak lupa aku menampakkan memekku

olak lagi permintaannya. Aku mulai menyentuh memekku dengan jariku. Kurasaka

kan pada kontolnya. Kudengar juga

yah di sela mengocoknya. "Jembut

usuku. Ini kulakukan sebagai pelampiasan atas nafsuku melihat konto

menyadari itu. Sementara ayah sendiri juga berhasil memuncratkan spermanya. Bany

kan pergi mandi. Suamiku berada di teras depan. Saat aku menuju kamar mandi, tiba-tiba ayah memaksa ikut ke dalam. Katanya ia pengin ngocok sambil lihat aku mandi. Ay

h. Atau sebenarnya ia takut melakukannya? Sementara aku sendiri sudah sangat berharap. Bisa saja aku melakukan Tinda

kan ini agar aku lebih d

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Liar Ayah Mertua
Gairah Liar Ayah Mertua
“Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?”