icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Liar Ayah Mertua

Bab 4 Part 04

Jumlah Kata:1180    |    Dirilis Pada: 15/06/2025

dan suamiku di sawah. Sesampainya di sana, kul

na ya?"

," jawab ayah.

reka. Pada saat aku sedang sibu

in

a,

lang sesuatu g

ku heran tumben ayah mem

alem ayah g

gaja ap

ja lihat kamu

t itu? Dan aku tiba-tiba saja merasa malu

r, ayah bernafsu liha

bingung haru

tersalurkan, Rin. Jujur aja ayah

aku juga hal yang sama denganku: berimajinasi soal aku. Tentu saja

ngocok," lanjut ayah. "Ayah bernafs

" sahutku.

Ayah kan udah

main sama Mas Iwan terus d

sahanmu dan goyanganmu b

idak paham dengan

gi pas kamu lagi main sama Iwan. Sekalian ayah sa

ini. Bagiku ini permintaan yang aneh. Bukan karena aku tidak suka dan menolaknya, tapi aku tidak

" tanya ayah

ondisinya, yah," jawabaku. "

ih ya,

a,

au boleh jujur, sebenarnya aku ingin melakukan hal yang lebih jauh dengan ayah. Beberapa kejadian yang kami alami membuatku ingin bertindak lebih jauh bersama ayah

enta

~

saling mengobrol banyak hal termasuk ayah. Aku iseng

u. "Pernah aku saranin tapi ayah no

bku. "Tapi kasihan kalo ti

i. Paling tidak kan ada kamu ya

saja kebutuhan yang dimaksud suamiku adalah kebutuhan sehari-hari seperti makan dan cuci pa

ia juga pasti butuh pelampiasan. Semoga saja ayah tidak sampe biki

ak tahu bahwa ayah pernah melihatku telanjang dan menyent

nakal. Dia sering ganggu istri o

tri istri anaknya sendi

sti nakal, Mas," sahutku. "Lagian ka

ayah lagi ngocok di kamar mandi," tambah suamik

in ngintip oran

. "Tapi dulu ayah pernah cerita, di

Kok jadi ceri

e. Iya

berjalan ke mana-mana mendengar informasi dari suamiku itu. Aku

*

saat aku sedang

yah?"

ayah kemarin, kam

ini Mas Iwan mengeluh kecapean.

a yakin sama permin

abku. "Nanti coba ak

in. Mak

Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini. Padahal secara kebutuhan biologis, aku masih tercukupi. Kenapa

u aku membuka dasterku dan seluruh pakaian yang menempel di tubuhku. Jadilah aku telanjang bulat. Selanjutnya aku menghampiri suamiku de

mentara aku terus memainkan kontolnya. Kurasakan kontolnya mulai mengeras. Su

anjang denganku. Kami kembali memulai dengan ciuman. Suamiku langsung melumat bibirku. Aku pun m

gintip. Entah kenapa membayangkan ada sepasang mata ayah di balik ged

kangan Mas Iwan dan langsung kuraih kontolnya. Perlahan kumulai menjilati batang

engar suamiku

ulewatkan. Langsung saja aku masukkan

bunyi suara y

narnya aku jarang sekali mau melakukan hal ini. Tapi aku tidak peduli. Aku

ahkanku dan ia langsung menindihku. Tangan kirinya menyentuh memekku yang ternyat

daraku. Lidahnya mulai memainkan puting

mendesah. Tak kuat merasaka

anganku otomatis membelai kepala suamik

ntaku pada suamiku ag

basa-basi, kontolnya menyeruak dan membelah bibir vaginaku. Tak butuh waktu lama kepalanya sudah m

merasakan ada sebua

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Liar Ayah Mertua
Gairah Liar Ayah Mertua
“Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?”