icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

icon

Bab 1 Rumah Terakhir

Jumlah Kata:704    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

a jantungku seperti diremas dari dalam. Kata-katanya masih menggema di k

utuh dana tambahan untuk ekspansi

u santai untuk sesuatu yang b

an, tapi jelas. Tangan gemetar, kuku-kuku mencengkeram kuat ujung meja m

n yang... kosong. Bukan dingin, bukan pula tajam. Kosong. Seakan-ak

unya padanya-waktu, tenaga, mimpi, dan harapan. Dan sekarang? Dia ingin aku menjual rumah yang

pi juga cinta. Rumah dengan dinding-dinding kusam dan taman kecil yang selalu kurawat seti

an suara gemetar. "Rumah itu satu-satunya ya

tar, lalu menatapku kembali-kali ini dengan keti

u warisan dari orang tuamu, tapi kita harus realistis.

as, tapi aku menolak menangis di hada

ggalan Mama, aku berikan tabunganku dari sebelum menikah. Aku bahkan menahan diri dari banya

tap keluar seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Tapi aku tahu dia tidak b

un masa depan. Jangan biarkan masa lalu m

ku bergeser kasar

asnya? Kau bilang tentang masa depan. Tapi kenapa rasanya seperti aku satu-satun

buhnya menghadapk

uka. "Aku tidak akan menjual rumah itu. Titik. Bahkan kalau a

rsel menatapku dengan wajah yang tak bisa kubaca. A

suara dingin, tajam, seperti

harus mulai menimbang kembal

m ruangan lenyap begitu saja. Kata-katanya menggunca

kami bicara tanpa nada bisnis atau rencana ekspansi atau target omzet? Sejak k

"Ini bukan tentang arah. Ini tentang siapa yang

kamar, lalu menutup pintu dengan perlahan. Di balik pintu

nanganku. Peluk Mama di pagi hari. Suara Papa mengeluh tentang teh yang kurang manis. Bau

n menjagaku, malah menjadi orang pertama yang me

untuk pertama kalinya sejak aku menikah, aku merasa le

ai mempertanyakan, apakah cinta mema

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
“Aku terhenyak, menatap Marsel dengan tatapan tajam penuh kemarahan. Baru setahun pernikahan kami, dan dia, suamiku, dengan santainya memintaku untuk menjual satu-satunya rumah peninggalan orang tuaku yang sudah meninggal. Rumah itu adalah kenangan terakhir yang tersisa darinya, tempat aku tumbuh dan merasakan kasih sayang mereka. Bagaimana mungkin dia memintaku untuk melepaskan itu? "Hilda," suaranya terdengar tenang, seolah tidak ada hal yang terlalu penting dari pembicaraan ini. "Kita butuh uang untuk investasi. Rumah ini hanya membebani." Aku menggigit bibir, berusaha menahan emosi yang berkecamuk dalam dada. "Tidak! Ini bukan tentang uang, Marsel! Ini tentang kenangan, tentang masa lalu yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja hanya karena alasanmu yang... dangkal!" Aku melangkah mundur, menatapnya dengan mata yang mulai memerah. Marsel memandangku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Di satu sisi, aku melihat kekuatan, tapi juga ada ketidaksabaran yang kian terlihat. "Hilda, aku hanya berpikir praktis. Kita harus berpikir ke depan." Aku tertawa pahit. "Ke depan? Apa kau lupa? Rumah ini adalah warisan yang tak ternilai bagiku! Dan kau ingin menjualnya begitu saja?" Dia menarik napas panjang, seakan mencoba menenangkan diri. "Aku tidak ingin bertengkar, Hilda. Tapi kita perlu uang untuk merencanakan masa depan kita. Apa pun itu, rumah ini hanya menghambat langkah kita." Aku merasa dunia ini begitu berat, seolah seluruh hidupku sedang terancam runtuh hanya karena keputusan yang diambil oleh orang yang aku cintai. Tidak ada jalan tengah dalam hal ini. Bagaimana bisa Marsel, yang dulu begitu aku percayai, berubah menjadi seseorang yang begitu dingin dan pragmatis? Aku tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi antara kami, tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah menyerah pada perasaan ini.”