icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cintamu Seperti Uang Kecil

Bab 4 Pukul tujuh pagi

Jumlah Kata:680    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

kan dengan wajah kusut. Matanya menyipit

sore?" tanyanya t

sendok kecil yang sedang menyuapi anaknya. "Toko r

menatapnya. "Te

lan ludah

an dahi. "Reza?

ernah kuliah

, suaranya taja

Y

ni

, tak sadar percikan amar

lan-jalan sore?" Dimas menyis

ku keluar rumah bukan buat jalan-jalan. Aku butuh waras

sendoknya ke meja

pulang malam tanpa kabar, bawa parfum wanita,

amu mulai kurang

ar, berarti kamu terlalu l

yakitkan. Dan untuk pertama kalinya, R

at. "Kamu se

a menghantam

kamu udah berapa lama tidur dengan perempuan itu, Dim? Aku bukan bodoh

alam diamnya, ada pe

u mau antar Aira sekolah. Dan setelah

k izin s

asa kehilangan kontrol, mungkin karen

ya bisa memandangi punggung itu... dan merasakan pertama kalinya

yu manis. Saat Rani datang dengan baju sederhana da

kerja di sini. Tapi aku nggak nyan

tuh ruang. Di sini... setidak

a belajar cepat, senyumannya yang hangat membuat pelanggan betah. Reza me

kan han

ah, dan sekarang... seperti akar yang kembali mu

uk di ruang belakang. Rani membuka bek

ka masak sendi

h. Walau yang makan s

pi matanya menangkap l

bantuan apa pun-uang, tempat tinggal, apa

ni supaya bisa berdiri sendiri. Kalau aku mulai ber

kehilangan arah. Kamu cuma ditarik orang

ter

mang merasa redup. Dimas membuatnya merasa tak ada. Dan k

. Aira sudah tidur. Dimas duduk di

beneran?" ta

Y

yar b

uk

adi mak

amu yang sejak lama udah ninggalin aku-secara perla

Hanya menatap asap

retak terlalu dalam. Dan reta

rlahan hancur. Dan satu langkah kecil menuju kebebasan... bis

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cintamu Seperti Uang Kecil
Cintamu Seperti Uang Kecil
“Rani tak bermaksud mengeluh, semua orang tahu harga kebutuhan pokok memang melonjak akhir-akhir ini. Dari beras sampai bumbu dapur, semuanya sudah tersedia karena suaminya, Dimas, yang biasa belanja ke pasar setiap awal pekan. Namun, ia hanya memberinya uang sebesar 25 ribu rupiah setiap hari untuk belanja sayur dan lauk. "Memang pelitnya enggak ketulungan si Dimas itu," pikir Rani, kesal. "Kamu ini ya, pintar banget ngomongnya. Nih, uangnya," ucap Dimas sambil menyodorkan uang kepadanya. Dengan cepat, Rani mengambilnya, tapi wajahnya tetap datar. Dalam hati ia menggerutu, "Cih, segini? Buat beli bedak aja kurang, apalagi lauk."”
1 Bab 1 Wanita realistis2 Bab 2 Aroma yang Terlupakan3 Bab 3 Lelaki dari Masa Lalu4 Bab 4 Pukul tujuh pagi5 Bab 5 Sudah tiga minggu Rani bekerja di toko roti6 Bab 6 Sejak pertengkaran di toko Reza7 Bab 7 Bukan pula karena pekerjaan menumpuk8 Bab 8 uang hasil menabung9 Bab 9 Surat Panggilan10 Bab 10 Surat resmi dari pengadilan11 Bab 11 Harga Sebuah Pelukan12 Bab 12 jadi saksi sebuah akad sederhana13 Bab 13 Diam-Diam, Dalam Luka14 Bab 14 Senyum Palsu di Balik Gaun Mewah15 Bab 15 membiarkan Aira melihat16 Bab 16 Hancur Tanpa Suara17 Bab 17 Diam yang Menyesakkan18 Bab 18 tertinggal di beberapa bagian19 Bab 19 Aira yang begitu ceria20 Bab 20 Senyuman yang Membungkam Dendam21 Bab 21 kewajiban22 Bab 22 Menyulam Luka23 Bab 23 Suara tepuk tangan memenuhi aula kecil24 Bab 24 memperhatikan25 Bab 25 Perempuan Kedua26 Bab 26 Melepaskan Luka27 Bab 27 Kehadiran yang Tak Disangka28 Bab 28 memberitahunya29 Bab 29 mengabarkan tentang kehamilan30 Bab 30 Nasi Goreng Tengah Malam31 Bab 31 Bisa dimasakin kapan aja32 Bab 32 Sudah hampir sepekan sejak malam itu33 Bab 33 kehabisan tenaga34 Bab 34 jarinya telah dibalut35 Bab 35 Kepalsuan yang Diperjuangkan36 Bab 36 bernyanyi kecil di ruang tengah37 Bab 37 Aroma Kebohongan38 Bab 38 Clarissa harus keluar dari hidupnya39 Bab 39 Aku hamil, dan itu anakmu40 Bab 40 familier