icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Cintamu Seperti Uang Kecil

Cintamu Seperti Uang Kecil

icon

Bab 1 Wanita realistis

Jumlah Kata:749    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

di Jakarta Timur. Rani berdiri di dapur, mengenakan daster lusuh berwarna ungu pucat, rambutnya diikat asal dengan jepitan plastik.

i ia tertawa kecil melihat meme lucu, tak peduli bahwa istrinya yang baru bangun subuh

ya. Lauknya telur dadar. Ayamnya udah habis d

gguk kecil. "Iya. Nggak usah ya

berteriak, tapi bibirnya tetap diam. Ia melanjutkan masak, memecahkan dua

milik temannya. Gajinya tak besar, tapi cukup untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Setidaknya, cukup menurut ve

alu menyodorkan selembar uang lusuh kepada istrinya. "Nih. Dua l

hatinya menolak. Dua puluh lima ribu? Setiap hari angka yang sama. Nggak pern

atur uang. Makanya aku percaya," tambah Di

at-erat. Di luar, suara tukang sayur sudah mulai terdengar. Ia tahu, harga bawang merah naik. Minyak gor

s, menyambar tas kerjanya dan melangkah pergi tanpa menoleh. Rani berdi

, punggungnya bersandar pada kulkas kecil yang tak lagi dingin. Ia menatap uang di tangannya-lemba

tak terdengar. "Buat beli bedak aja nggak cuk

unga di hari ulang tahunnya, membawanya makan mie ayam di warung favorit, dan sesekali mengir

a, akan begini sunyinya. Tak ada tempat bercerita, tak ada bahu un

upiah dihitung, setiap lembar uang dicatat. Tapi tetap saja, rasanya seperti berjuang sendiri dalam kapal y

. Garis halus mulai tampak di sudut matanya. Dulu kamu bilang aku cantik ta

u keluar rumah. Langkahnya pelan, lelah. Tapi ia tetap berjalan, seperti b

m naik. Tomat mahal. Ia akhirnya membeli dua ikat kangkung, sebutir ta

ibu penjual dengan nada tak yak

Enggak usah, Bu. Saya c

etnya, dan dengan hatinya sendiri. Tapi yang paling melelahkan ada

mpakkan lelah, hanya kehampaan. Dan di dalam hatinya, ada satu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cintamu Seperti Uang Kecil
Cintamu Seperti Uang Kecil
“Rani tak bermaksud mengeluh, semua orang tahu harga kebutuhan pokok memang melonjak akhir-akhir ini. Dari beras sampai bumbu dapur, semuanya sudah tersedia karena suaminya, Dimas, yang biasa belanja ke pasar setiap awal pekan. Namun, ia hanya memberinya uang sebesar 25 ribu rupiah setiap hari untuk belanja sayur dan lauk. "Memang pelitnya enggak ketulungan si Dimas itu," pikir Rani, kesal. "Kamu ini ya, pintar banget ngomongnya. Nih, uangnya," ucap Dimas sambil menyodorkan uang kepadanya. Dengan cepat, Rani mengambilnya, tapi wajahnya tetap datar. Dalam hati ia menggerutu, "Cih, segini? Buat beli bedak aja kurang, apalagi lauk."”
1 Bab 1 Wanita realistis2 Bab 2 Aroma yang Terlupakan3 Bab 3 Lelaki dari Masa Lalu4 Bab 4 Pukul tujuh pagi5 Bab 5 Sudah tiga minggu Rani bekerja di toko roti6 Bab 6 Sejak pertengkaran di toko Reza7 Bab 7 Bukan pula karena pekerjaan menumpuk8 Bab 8 uang hasil menabung9 Bab 9 Surat Panggilan10 Bab 10 Surat resmi dari pengadilan11 Bab 11 Harga Sebuah Pelukan12 Bab 12 jadi saksi sebuah akad sederhana13 Bab 13 Diam-Diam, Dalam Luka14 Bab 14 Senyum Palsu di Balik Gaun Mewah15 Bab 15 membiarkan Aira melihat16 Bab 16 Hancur Tanpa Suara17 Bab 17 Diam yang Menyesakkan18 Bab 18 tertinggal di beberapa bagian19 Bab 19 Aira yang begitu ceria20 Bab 20 Senyuman yang Membungkam Dendam21 Bab 21 kewajiban22 Bab 22 Menyulam Luka23 Bab 23 Suara tepuk tangan memenuhi aula kecil24 Bab 24 memperhatikan25 Bab 25 Perempuan Kedua26 Bab 26 Melepaskan Luka27 Bab 27 Kehadiran yang Tak Disangka28 Bab 28 memberitahunya29 Bab 29 mengabarkan tentang kehamilan30 Bab 30 Nasi Goreng Tengah Malam31 Bab 31 Bisa dimasakin kapan aja32 Bab 32 Sudah hampir sepekan sejak malam itu33 Bab 33 kehabisan tenaga34 Bab 34 jarinya telah dibalut35 Bab 35 Kepalsuan yang Diperjuangkan36 Bab 36 bernyanyi kecil di ruang tengah37 Bab 37 Aroma Kebohongan38 Bab 38 Clarissa harus keluar dari hidupnya39 Bab 39 Aku hamil, dan itu anakmu40 Bab 40 familier