icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Istri Cadangan

Bab 8 menyajikan sarapan

Jumlah Kata:632    |    Dirilis Pada: 09/04/2025

nya menyajikan sarapan. Tangannya tak bergerak menyentuh roti panggang

yang berubah sejak semalam. Dara terlihat... terlalu dewasa unt

yan

n. "Ibu dulu pacaran

enjatuhkan sendo

kamu dengar

n tentang Tante Karina. Tapi ada coretan aneh di dalam

elah menemukan sesuatu. Sesuatu

"Apa yang kamu temukan... itu cerita masa lalu. Cerita kelam. Dan kadang, or

kita, kan?" suaranya nyaris berbisik.

basahi pelupuk. Ia tak ingin Dara tahu. Tapi

harus janji... apa pun yang kamu tahu, kamu simpan.

tentang hubungan terlarang, tentang pria bernama Ayendra yang dihancurkan d

itanya, Dara hanya bisa menat

na buat ninggalin tunangannya?

Y

lebih jahat. Ayah... atau Tante Karina

ouse milik Reza. Matanya menelusuri refleksi tubuhnya sendir

iapa pun, bahkan dari masa lal

terasa usang. Dan ia tahu, p

ngkat dari seseorang yang han

Beberapa bukti lama sudah mereka kumpulka

a pura-pura menjadi korban demi menyingkirkan Ayendra. Ia saat itu hanyalah wan

dosa itu

nya, ia mengambil selembar foto-foto dirinya dan Ayendra, tujuh tahun lalu. D

. Tapi bukan karena rasa bersala

takutan-bahwa semua

i meja, namun perhatian Reza sepenuhnya tertuju pada foto yang dikirim dari a

gumam Reza. "Bahkan da

jam. "Apa Anda ingin me

juga senjata yang bisa digunakan Nadi

nerima panggilan da

za yang kamu kenal. Dia pria yang akan melakukan apa saja untuk men

ngenali

en

au dia ingin perang, maka k

itu, Karina dihantui masa lalu yang tidak mau diam. Ayendra menemukan bukti pamu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Istri Cadangan
Istri Cadangan
“Nadia berdiri terpaku di ambang pintu kamar tamu, tubuhnya membeku melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya dalam sekejap. Di atas ranjang yang seharusnya hanya milik pernikahannya, Reza-suaminya-berbaring bersama wanita lain. Wanita itu adalah Karina, seseorang yang selama ini tinggal di rumah mereka dengan alasan butuh tempat sementara. Alih-alih merasa bersalah, Karina menatap Nadia dengan senyum penuh kemenangan. "Sekarang kau tahu, Nadia," ucapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Reza memilihku. Kami saling mencintai." Reza, yang seharusnya bersujud meminta maaf, justru mengangguk setuju. "Aku ingin menikahi Karina. Aku harap kau bisa mengerti." Darah Nadia mendidih. Penghinaan ini terlalu besar untuk bisa dibiarkan begitu saja. Ia mengangkat dagunya, menatap mereka dengan mata penuh tekad. "Kalian pikir aku akan menangis dan menyerah begitu saja? Jangan bermimpi." Dengan hati yang membara, Nadia berjanji pada dirinya sendiri-pengkhianatan ini akan dibayar lunas.”