icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Istri Cadangan

Bab 5 memperjelas kepanikan

Jumlah Kata:580    |    Dirilis Pada: 09/04/2025

lagi akan meledak. Lobi hotel bintang lima itu tampak mewah dan tenang, tapi di balik

ali ini hanya memperjelas kepanikan yang tersembunyi di balik tatapan matanya. Sepatu hak tingginya mengetuk lant

ia tahu, pertemuan ini tak akan menjadi p

a, Nadi

m arang membingkai tubuhnya, rambutnya disanggul rapi. Ia tidak datang sebagai

nyambut, setengah

ku tak meny

u lakukan?" suara Nadia dingin. Tatapannya tajam, sepe

cara baik-baik. Aku tahu ini... rumit. Tapi

makan dari meja makanku. Dan setiap malam kau tidur dengan suamiku, lalu berpura-pura menjadi

ni bukan waktu untuk lemah. Ia sudah b

-sama terluka. Reza bukan lagi pr

lu. Bahkan sebelum kami menikah." Suara Nadia semakin kera

ng. "Jadi kau

adis asuhnya. Aku tahu dia biayai hidupmu sejak dulu. Kau bukan hanya s

ranya akhirnya pecah. "Aku bersama dia bukan karena uang atau status. Tapi karena aku kenal dia lebih dulu. Aku

an keras mele

masih tergantung di udara, bekas t

n? Jangan pernah berdiri di hadapanku dan bicara soal hak, Karina. Karena mulai sekarang, aku akan cabut semua

menyentuh pipi merahnya. Tapi ma

perang, Nad. Dan

arah Karina, suaranya nyaris

untuk menghancurkan. Dan aku akan pastika

nya: "Permintaan mediasi ditolak. Nadia resmi menggugat, dengan tuntutan m

p wajahnya

ak main-

kaca besar apartemennya, memandang langit gel

lu, Karina. Tapi panggung

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Istri Cadangan
Istri Cadangan
“Nadia berdiri terpaku di ambang pintu kamar tamu, tubuhnya membeku melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya dalam sekejap. Di atas ranjang yang seharusnya hanya milik pernikahannya, Reza-suaminya-berbaring bersama wanita lain. Wanita itu adalah Karina, seseorang yang selama ini tinggal di rumah mereka dengan alasan butuh tempat sementara. Alih-alih merasa bersalah, Karina menatap Nadia dengan senyum penuh kemenangan. "Sekarang kau tahu, Nadia," ucapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Reza memilihku. Kami saling mencintai." Reza, yang seharusnya bersujud meminta maaf, justru mengangguk setuju. "Aku ingin menikahi Karina. Aku harap kau bisa mengerti." Darah Nadia mendidih. Penghinaan ini terlalu besar untuk bisa dibiarkan begitu saja. Ia mengangkat dagunya, menatap mereka dengan mata penuh tekad. "Kalian pikir aku akan menangis dan menyerah begitu saja? Jangan bermimpi." Dengan hati yang membara, Nadia berjanji pada dirinya sendiri-pengkhianatan ini akan dibayar lunas.”