mbah teguran keras dari ibunya, membuat Zay semakin cemas. Ibunya menegaskan agar Zay tidak mendekati rumah itu lagi, apalagi setelah Gibso
rannya. Gadis itu semakin tertekan dengan situasi keuangannya, dan Zay merasa bersalah karena tidak bisa membantunya lebih jauh.
a telah bebas tetapi harus tetap hadir ke sekolah sebelum pengumuman kelulusan dan hari li
mewah terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Mobil itu begitu mencolok dengan cat
ng kuat terpancar dengan jelas. Para siswa di sekitar mereka saling berbisik, penasaran dengan siapa pria itu dan apa tujuannya berada di
a tersebut mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada Zay untuk mendekat. Zay, yang
Mingmei mengangguk, berdiri di
ulang. Namun, Mingmei hanya menolak dengan sopan, tidak ingin terlibat dalam percakapan yang tida
ata hitamnya, merasa terganggu oleh para siswa yang mengelilingi ga
a, Gibson memalingkan pand
n nada penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud lancan
adian pada hari itu. Zay takut kedatangan Gib
i di wajahnya. "Aku tertarik dengan tawaranmu saat di ru
yang dingin, sehingga Zay terkejut. Dia merasa seolah-ola
tu, sampai akhirnya Gibson membuka jend
tempat Mingmei berdiri. Tanpa banyak
ti langkah Zay yang membawanya menuju mobil Gibson. Mingmei sanga
pun mengikuti dari belakang. Mereka duduk di kursi belakang, sementa
mereka lewat kaca spion, mendengu
r," katanya den
aksud Gibson, segera menyuruh
ri perasaan gugup yang merayapi hatinya. Jantungnya berdebar kencang, terutama saat dia melihat wajah Gibson dari arah samping. Pria itu
ecanggungan di antara mereka. Tanpa sepatah kata pun, dia menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudi. Mobil mela
ernah bertemu. Zay pernah membawa Mingmei ke kediaman Fransisco, bahkan mereka sempat bertabrakan di lorong. Mingmei datang ke
uah villa mewah yang terletak di pinggiran kota. Vill
mengucapkan apa-apa. Zay dan Mingmei mengikuti dari belakang, mer
menyambut mereka, dengan perabotan elegan dan pencahayaan
ana, masih dengan kacamata hitamnya untuk beberapa saat
g ketika Gibson mulai berbica
bih dari itu," lanjut Gibson. "Tapi, aku ingin tahu
cara Gibson berbicara. Namun, dia berusaha te
u seperti pisau yang menusuk langsung ke hatinya. Dia tahu bahwa ini bukan lagi soal uang, tapi soal
yang kamu minta," kata Mingmei akhi, menunjukkan sedikit seny
an apa saja atas perintahku. Aku akan mengatur se
lagi. Dia tahu bahwa keputusannya ini akan membawa konsek
beri isyarat bahwa perte
ibson tanpa melihat ke arah pemuda itu.
pilihan. Dia berdiri, menatap Mingmei dengan cemas, lalu berbisik, "Kau tidak perl
ampir jatuh. Setelah Zay pergi, Mingmei merasa semakin ter
/0/23351/coverbig.jpg?v=e4fcf5018e46fde4dbcee7d9b5cbdf5a&imageMogr2/format/webp)