/0/23351/coverbig.jpg?v=e4fcf5018e46fde4dbcee7d9b5cbdf5a&imageMogr2/format/webp)
ku lakukan," gumam Mingmei
erenggut nyawa kedua orang tuanya. Sejak saat itu, hidup Mingmei berubah total. Tidak ada lagi canda tawa di meja makan, tidak ada lagi kehangatan peluk
yang kurus namun berisi di bagian yang seharusnya menonjol. Penampilannya yang sempurna sering membuat orang-orang terpana. Wajahnya yang menyerupai boneka Barbie membuatnya banyak dilirik para pria, namun di balik penamp
tuanya. Namun, kebutuhan hidup sehari-hari yang tak tercukupi, semua membuatnya tenggelam dalam kesedihan, belum lagi biaya pendaftaran ke perguruan tinggi sangatlah mahal. Pekerj
ertemu dan berbicara dengan Zay, sa
i dengan suara yang nyaris berbisik saat
, sebuah keluarga kaya raya yang memiliki pengaruh besar di kota mereka. Meski hidupnya sendiri sulit, Zay selalu berusaha membantu Mingmei se
Zay terdiam tanpa kata mencoba menunggu kelanjutan perkataan gadis yang ada di sampingnya. Wajah
dak bisa melunasi tunggakan sekolahku, dan menebus ijazahnya nanti
berdaya melihat temann
nya, kalimat itu keluar dengan begitu sulit. "Aku butuh uang, Zay. Tolong bantu aku untu
r kata-kata yang memang sudah beberapa kali Mingmei katakan padanya. Zay selalu mencoba membujuk Mingmei untuk bekerja lebih keras lagi, begitup
olusi yang baik. Kamu tidak perlu melakukan ini," kata Zay
k ada yang berhasil. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku harus bisa masuk
rdesak, tapi dia juga tahu betapa berat keputusan ini. Setelah beberapa saat,
sulit. Dia pun kembali berkata, "Aku akan coba bicara deng
kin mau denganku, lebih baik kau cari saja pria lain," ujar
i pria dewasa yang tegas, sedikit misterius, dan memiliki karisma yang tak bisa diabaikan. Meski tak pernah
ingmei sebagai seseorang yang layak diba
*
mu dengan Gibson. Zay diam-diam membuka pintu ruang kerja yang di dalamnya
n itu dipenuhi dengan buku-buku tebal dan perabot
temanku, Mingmei," kata Zay gugup. "Dia sedang kesulitan dan sangat membutuhkan uang. Aku tahu
kepalanya. Matanya menatap Zay dengan tajam, seolah menilai setiap kata yang keluar dari mu
am, menatap Zay dengan ekspresi yang sulit diartikan
Aku ... aku tidak seharusnya mengajukan permintaan seperti i
u, takut ketahuan ibunya karena telah
menarik napas panjang dan langsung
gmei untuk menemuinya. Dengan wajah penuh penyesala
a-apa. Aku rasa kita tidak bisa mengandalkannya. Mungkin... mungki
pannya hancur seketika. "Mungkin kamu b
ekuatan. "Aku tahu ini sulit, tapi kamu masih punya w
inya, Mingmei tahu bahwa
a, merasa putus asa karena tidak bisa membantu temannya. Akhirnya di
u inginkan, tapi ... mungkin kamu bisa coba kerja di
u asing dan berbahaya bagi gadis seperti dirinya. Namun, dengan ti
Zay," jawab Mingmei denga
, dan kesepian. Di tengah kegelapan malam, air mata mengalir di pipinya, membasahi bantal yang sudah usang. Dia tahu bahwa keputusan yang
dunia seolah tidak berpihak padanya tetapi demi mewujudkan harapan orang tuan
/0/23351/coverbig.jpg?v=e4fcf5018e46fde4dbcee7d9b5cbdf5a&imageMogr2/format/webp)