rani menatap langsung ke arah Gibson, pria yang kini berada di hadapannya dengan tatapan tajam yang seolah me
a gadis di depannya. "Kau tahu apa yang paling tidak
hanya memberanikan diri menatap mata
rkata 'akan melakukan apa pun yang diminta'. Mereka rela menjatuhkan harga dirinya, bahkan m
mpul di dalam dirinya serta rasa sakit di hatinya. "Aku tidak punya p
alu ada pilihan. Kau hanya terlalu malas untuk mencarinya," lanjutnya berkata. "Dan sekarang kau datang padaku, berharap aku akan membayar semua hut
keras untuk menahannya. "Aku melakukan ini bukan karena aku ingin, tapi karena aku harus menyelesaika
engan cara merendahkan diri? Orang tua macam apa yang akan menginginkan hal s
n pertahanan terakhir Mingmei. Air mata yang sej
emenuhi keinginan mereka, untuk lulus dan melanjutkan pendidikan. Aku rela melakukan apa saja demi itu, termasu
risak sambil berdiri. Namun, ekspresinya tetap dat
imu kesempatan terakhir sebelum benar-benar
rasa sakit dan kehilangan, Tuan? Kau memiliki segalanya-uang, kekuasaan, semua yang bisa membuat hidupmu mudah. Tapi a
Dia terus menatap Mingmei deng
iki pilihan. Jangan biarkan otak bodohmu yang bicara, tapi gunakan k
n perkataan Gibson. Dia merasa beg
sembarangan," katanya dengan nada putus asa. "Aku akan men
jaminan
ab dengan yakin. "Ya, dengan tubuhku!" ucap Mingmei dengan keras penuh emosi, seakan
perkataan Gibson. "Bitch!
pi wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya terasa sesa
erteriak seperti itu padamu, Tuan. Aku tidak be
ya, begitu dekat. Dia tak tahu kapan pria itu mendekat, kini Gibson di hadapannya, menatapnya dengan ekspre
ya seolah-olah seluruh dunia berhenti berpu
as. Dia tidak meminta maaf, tidak juga mengatakan apa pun yang bisa dianggap sebagai penghiburan. Hanya sebuah tat
ir mata. Ada sesuatu yang menarik seperti magnet, membuatnya tetap bertahan mena
gan tangan yang kuat namun lembut, mengha
engucapkan sepatah kata pun. Dia hanya terus menatapnya
t menggoda. Detik berikutnya, tanpa memberi Mingmei kesempatan untuk bereaksi, Gibson mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman itu begitu cepat dan tiba-t
embuat Mingmei tidak bisa menghindar dari ciuman yang terasa lembut dan manis. Hatinya cukup tertarik untuk membalas ciuman Gibson, bibir mereka se
ra Gibson terdengar serak, seolah dia pun tak mengerti mengapa dia melakukan itu. Namun, dia tidak me
/0/23351/coverbig.jpg?v=e4fcf5018e46fde4dbcee7d9b5cbdf5a&imageMogr2/format/webp)