icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Membalas Penkhianatan Istriku

Bab 3 Part 03. Disakikiti Pulang Kampung

Jumlah Kata:1124    |    Dirilis Pada: 04/03/2025

alib makin melayang dibuatnya. Tangan kanan Jannah memijat lembut dua testis yang menggantung, memberikan efek etkasi bagi Thalib. Jannah tak perlu diajari lag

bisa dia sudah keluar lebih dulu. Jannah menghentikan aktifitas blowjobnya

ng seluruh syaraf yang ada di tubuhnya. Permainan lidah Thalib tak bisa diragukan lagi, luar biasa. Arief saja kalah. Meskipun Arief juga pernah memberikannya kenikmatan seperti itu, tetapi sungguh tidak ada apa-apanya.

h maass.... nikmaat..

a meletakkan lengannya ke dahi. Baru orgasme perta

melebarkan kaki Jannah. Diperhatikannya dulu bagaimana bibir surgawi perem

Kepalanya mulai menggeseki pintu masuk lorong kenikmatan perempuan tersebut. Dia ingin mempermainkan libido Jannah. Dia tahu Jannah suda

masukin!" p

Thalib tidak kuasa, setiap batangnya masuk rasanya benar-benar nikmat. Tubuhnya pun kini menindih Jannah. Bibirnya sibuk menjilati ketiak Jannah yang wangi, lehernya

Jannah mengunci rapat pinggul lelaki ini. Hingga akhirnya keduanya pun meraih puncak

ng senggama Jannah. Kedua insan ini pun akh

an kepada hakim dan akan jadi pertimbangan nantinya. Dia hanya ingin menyelamatkan Khalil

itmen untuk hidup bersama berarti dia sudah tahu segala risiko. Persoalannya adalah istrinya yang tergoda dan lebih memilih untu

perempuan itu telah berkhianat. Lalu, buat apa mencintai seorang pengkhianat? Kena

kepadanya, "Apakah kau yakin dengan keputusanmu? Aku bukan siapa-siapa, aku ju

u adalah orang yang berani sampai sejauh ini m

inya. Lalu kenapa sekarang Jannah mengkhianat

t melihat ayahnya pulang. Dia langsung mem

diran Arief. Dia adalah tetangganya yang dia sew

sudah menjaga Kha

ak seperti Khalil ada sepuluh pun ma

enyerahkan amplop berisi uang kepada Bu

ni pak?" ta

ikan di awal saja l

urang baik

ini minggu-minggu terakhir ibu menjaga Khalil. Saya ber

k mau pind

saya. Di sana Khalil akan ting

t dan bilang terima kasih. Setelah itu perempuan

temu ama kakek

enganggu

pergi ke r

at tangannya ge

hanya rumah berukuran 6 x 10 meter dengan halaman yang luas. Di halaman itu juga tidak ada yang spesial, hanya tanaman-tanaman terawat serta pohon

t kakeknya sedang memotongi dahan-da

ang pria yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya. Itu bukan tatapan suka, melainkan tatapan menghaki

u!" ser

etapi lelaki itu menghindar. "Kalau bu

n, bagaimana dia harus menurut sedangkan siapapun yang tinggal di desa ini tahu siapa itu Rah Pan

sung duduk di pinggir kolam. Dia seru sendiri dengan dunianya menjulurkan jarinya ke pinggir kolam. Beberapa ikan sampai menghampirinya dan

ef. Perlahan-lahan Arief p

so sambil mengambil tempat duduk di pinggir kolam dengan kedua kakin

dengar nasihat b

au dikh

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Membalas Penkhianatan Istriku
Membalas Penkhianatan Istriku
“"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.”