wa, dari dalam tasnya. Menempelkan benda tersebut pada bagian sensor. Bunyi khas dari kunci ya
ala seolah menyuruh Sheilla masuk lebih dulu. Dia menyimpan ponsel ke dalam saku celana sebelum
esekali dia melirik Sheilla yang tengah memeriksa barang-barang milik sepupunya. Laci, lemari, sampai bawah t
erada. Kekasihnya itu duduk di single sofa tak jauh dari ranjan
ng a
alisnya terangkat naik. Menatap Shella yang malah menggeleng-gelengkan kepala. Langkah Jefri seret mendekat ke lemari es, membuka benda setinggi satu setengah meter itu. Di dalamnya, hanya ada be
ia temukan ke dekat Sheilla. Gadis itu baru
taruh di atas meja-di ruang tengah. Sheilla mengambil satu botol air tersebut. Kerongkon
sibuk mengunyah makanan yang ada di tangannya. Sesekali dia menyo
n Bella 'ngemil' begini? Setahu Sheilla, kakak sepupunya itu amat sangat menghindari jenis makan
dulu tapi. Makan ini gak ngenyangin." Jefri m
as makannya, Jef," ujar Sheilla seraya
Sheilla saat gadis itu membungkuk. Jefri meneguk saliva. Tanpa berpikir
Apaan, s
ia
nar adanya, suara Jefri terdengar be
Alis Jefri t
hanya gagal sebab tangan kekasihnya itu melingkar posesif di pinggangnya.
am tertahan. Sheilla selalu saja se
esra sama kamu di apartemen kak Bella. Aku ke sini b
kemasan alat pengaman alias k*nd*m pada Sheilla. "Kalau ini pengala
! Apaan kamu, tuh. Dari mana cob
meng
gak akan ma
lumayan ini." Jefri memasukkan lagi benda
il hendak berlalu. Tapi, ta
, Beiby,
i sambil memaksakan senyumnya. Sejurus kemudian
sendiri, tapi percuma, Sheilla sudah beranjak me
*
ia tahu Sheilla di apartemen bersama seorang laki-laki. Jefri, nama itu lolos dari bibir Sheilla kemarin-seusai Nar
aya, SHEILLA!" Narendra bangkit. Emosi yang semula dia tahan-tahan, meluap juga. Narendra menend
lang dia embuskan karbondioksida dari mulut. Berharap
sebuah ruangan dengan dua sejoli. Membayangkannya membuat darah dia mend
ya yang mengawasi Sheilla. Segera dia buka gambar berdurasi kurang dari 10 menit itu. S
asih memperhatikan. Sekali lagi, dia tidak bodoh untuk bisa melihat ekspresi pemuda yang sed
*ngs
wati kamera-yang entah bagaimana anak buah Narendra meng
akanya kamu nolak aku." Suara Jefri berbaur dengan bunyi sepatu,
rpikir seperti itu?" Dia menggeleng tidak percaya. "Kamu tahu
pa kamu gak mau
yolah, cinta gak harus diekspresikan lewat sentuhan." Dia ha
cinta sama si Narendra
k akan repot-repot cari Kak Bella kayak gini, Jefri. Tinggal aku nikmati posisiku sekarang." Sheilla hampir menangis akibat menahan segala
yang," lirih Jefri. Bersamaan dengan kalimat pemuda it
lam keadaan marah pun, Sheilla masih menyebutkan namanya dengan
*
antas dia sebut rumah? Meskipun besar, semua fasilitas tersedia, nyatanya, Sheilla tetap sa
Takut banget aku tahu rumah suami kamu, Shei." Komentar sinis Jefri begitu ti
mengeratkan pelukan pada bantal guling
Bella. Foto kemeja laki-laki, parfum, sampai sandal rumahan pun milik laki-laki. "Semua ini punya siapa, ya? Kak Nare
li ini dia masukkan benda pipih itu ke dalam tas. Sheilla beranjak membuka benda akses keluar m
. Alma merangsek masuk ke dalam kamar yang Sheilla tempati. "Tadi ... waktu Sheilla datang, kata bibi
mu sudah bukan anggota rumah ini lagi. Gak baik datang ke rumah o
tika membeku. Dia seolah tidak perc
a baju banyak kemarin. Alasannya apa, yang pasti kamu akan tinggal di sana dan seharusnya bersikaplah selayaknya orang pindah tempat ting
dilihatnya, Sheilla masih be
ira datang. Satu lagi ... saya gak mau anak bulu k
yang dipeliharanya sejak 5 bulan terakhir. Setelah mengemasi pakaiannya, Sheilla segera kelu
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)