gok ke bawah, lumayan juga turun dua lantai, hampir seperti naik ke ruangan kelas di Un
an tarikan napasnya. Rumah sebesar ini sepi sekali, batinnya. Hanya ada lalu-lalan
kaknya-Dina Hasan-berlari ke arah Sheilla. Memelu
menyambut. "Si can
-kabur lagi, bunda capek, ni
putrinya. Sheilla tersenyum, mengerti
, pantesan ada yang bau!" serunya menggoda gadis berambut kriwil tersebut. Dhara menyengir k
antenya seperti itu, lho. Kamu b
ra semakin erat memeluk leher Sheilla.
! Itu kamu masih
jongkok, Sheilla lantas berdiri membawa serta gadis 5 tahun itu dalam
akin erat memeluk leher Sheilla. "Turunin, Shei. Dhara
Mbak. Dhara ga
erus saja menempel. Padahal, Sheilla baru kemarin datang. Rupa
an orang lain. Bahkan dengan tunangan atau mantan-mantan Naren
kan lidah ke arah Dina. "Tante mau ke mana?" Beralih lagi pada Shei
g, Sayang,"
gai respon dari pertanyaan berikutnya. "Bukan
ayan pegal juga punggungnya, padahal hanya sebentar. Sheilla mengambil kembali beberapa buku yang sebelumnya dia letakkan di anak tangga t
apa?" tanya
gan putri semata wayangnya yang mulai cerewet itu. "Mandi dulu, yuk! Nanti bund
l memperlihatkan deretan gigi ke
ngkat sekarang, Shei?" Kemudian beralih p
bak. Sheilla a
agi
Ada yang mau aku ambi
mput bibi pengasuhnya. "Mandi yang bersih, ya, Nak," uc
ante ... maksud aku, Mama sama Papa masih belum
erangkat
l, M
Dina mengekor hin
unggu di depan." Sheilla melihat layar gawai yan
arendra turun ke lantai satu bersama asist
harus berangkat sekar
apa yang kukatak
k, T
arendra pergi mengikuti Sheill
*
ng, ojol pesanannya sudah menunggu. Pengendara s
eilla?" tanyanya. Helm tak se
menunjukkan layar ponselnya berada dalam aplikasi hijau. Tit
orderan dari rumah semegah ini?" Aban
tertawa. "Ay
lakang. "Kita ke titik pertama dulu, ya, Bang ojol. Nanti dari sana saya or
kendaraan yang ditungganginya hanya butuh kurang dari satu jam untuk sampai ke rumah Wira. Dia turun dan meminta ojol
k. Gak la
gak,
umah yang sebelumnya tetap saja itu bikin heran. Pemilik hunian seperti di hadapanny
nggal di kamar Bella. Terakhir sebelum peristiwa pernikahan terjadi, malam harinya Sheilla masih meneman
saya udah
ol mengangsurkan lagi helm untuk dipakai
Kenapa mu
ntar pengendara ojol tersebut saat
Sheilla menjawab sekenanya t
*
eilla. Gadis itu melambaikan tangan. "Ini helm-nya. Ini ongkos s
sama,
Jefri lebih dulu
gak marah saat lihat kamu n
ali dijelaskan pun statusnya kini memang sudah j
u gak telat. Memangnya kamu bisa nol
. nggak
rti itu. Mana mungkin Sheilla berani membantah om serta tantenya. Setah
r berlalu. "Aku tau, aku salah. Pernikahan ini hanya sampai Ka
lama seolah meragukan ucap
, lagi curiga kal
arnya
tu aku gak?" tanya Sheilla tanpa menjelaskan
u ...
Kak
gi sendiri, ya, gak mau nikah sama Narend
nya pada Jefri. Menarik tangan pemuda itu ke tempat yang lebih sepi. "Justru itu, Kak Naren mencurigakan banget tau, gak? Aku curiga dia sebenarnya tau
a ngejebak
la berdecak. Masuk perangkap Narendra adalah takdir terburuk dalam hidupnya. Well, dia kaya raya, punya segalanya. Tap
Tapi ... alasan, mungkin dia sebenar
Jefri. "Kamu, tuh ... lawak banget. Ya,
Tapi, kamu, tuh, manis. S
di sebelum ke sini, aku mampir ke rumah buat ambil Acces
ayang. Kalau Access card nya aja gak dibaw
knya aku bisa cari petunju
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)