ulai mengeluarkan beberapa barang dari dalam koper. Baju, sengaja Sheilla tidak membawa te
tu yang sebelah kanan masih ada ruang
kok, Kak. Simpan di
, musti buka-buka koper dulu. Lagian, pakaian segitu cukup? Biasanya perempuan ringkih, banyak banget barang ya
sejenak pada laki-laki tersebut. "Siapa juga ya
pa
lik nama Sheilla Anandita Wijaya itu mendengkus pelan. Kemudi
gangguk. "Se
ahan kesal, Sheilla menunjuk dua pintu bergantian.
ju yang digantung. Kalau mau ada yang di simp
u disimpan kalau kuncinya aja g
a kursinya mendekati nakas, tak jauh dari tempat tidur. Menarik tuas laci, mencari benda yang dibutuhkan Sheilla untuk membuka
gnya. Ruang pada benda yang terbuat dari kayu itu memang koson
ikirkan Sheilla. "Tapi, kalau barang kamu banyak dan gak cukup di situ, masih ada lem
ukan buat aku kali, Kak. Tapi, buat Kak Bella," ucapnya datar. "And, udah lihat sendiri,
mulai terasa akhward dan apa itu tadi? Batin Sheilla. Aku? Sejak kemarin Narendra be
kamu sekarang yang di sini," uca
atas ranjang tanpa merespon ucapan Narendra. Mengambil lagi beberapa keperluan yang dia bawa di dalam tas besar itu.
r-benar harus terjebak de
Mencari tempat yang tepat untuk menyimpannya. Meskipun kamar Narendra luas, tapi setiap sisi seperti suda
jendela. Lagi-lagi seolah paham isi kepala Sheilla. "Kamu nanti b
itu meja kerja
gerjakan pekerjaanku
heilla sembari meletakkan buku-buku di
kamu rusak, ka
dapat logo merk terkenal yang tampak mengkilat. Buah apel bekas gigitan-entah siapa. "Kok ... Kaka
atang saat kamu duduk di teras depan rumah sambil me
dangan dari Narendra. Hingga suaminya itu kem
sedang membicarakan soal benda ini." Sheilla menunjuk lagi laptop
apa,
tau kalau aku yang akan datang
hadapannya. Mungkin Sheilla berpikir semua seperti sudah terenca
u terima. Kecuali, Kakak kasih
amu berpikir aku yang sembu
dibohongi?" Setelah mengatakan i
*
lik benda pipih tersebut baru keluar dari kamar mandi. Sheilla menyeka wajah menggunakan handuk
Lelaki yang semalam berdebat tentang posisi, status, dan tempat tidur itu masih terlelap. Berbagi ran
s dan duduk di kursi yang ada di sana. "Ada apa, Jef?"
dra sebetulnya sudah terjaga. Tepat saat ha
cap Sheilla. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang dik
dera pendengarannya me
fri." Suara Sheilla menggeram tertahan. "Udah lah, gimana na
ping parfum milik Narendra. Dia melihat suaminya itu dari cermin denga
rlebihan dalam berhias. Sapuan make-up natural cukup untuknya. Terakh
okoh di dekat hapenya. Sheilla buka penutup dan mencium aroma dari ujung botol tersebut. Y
i sampe tunangan gak mungkin gak ... sekadar pelukan, kan? T
u cowok, tapi ini ... ini baunya beda. Parfum Kak Naren ada berapa?" Sheilla mengedarkan pandangannya ke ata
tiap abis kencan. Aneh banget," gumam Sheilla se
arannya. Dia menoleh pada keberadaan tempat tidur. Narendra su
letakkan botol parfum ke te
minyak wangiku?" ucap Narendra. Ada nada sinis dari k
k pagi. Melihat lagi Narendra yang tidak berhenti menatapnya. "Kenapa? Om Wira sama tante
a. Tapi, apa harus b
, Kak!" Tanpa mendengar lagi respon dari Narend
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)