n, tidak berlaku bagi Sheilla. Gadis itu sudah bertekat untuk membuktikan kecurigaannya pada Narendra. Terlebih, sampai detik ini,
emudi. Sheilla kembali menatap rumah yang sekian tahun dia tempati. Wira serta Alma melambaik
njawab, Sheilla mengulurkan tangannya memijit tombol yang ada
mah om sama tante kamu gak jauh dari rumahku. Kamu bisa main ke sini kapanpun," imbuh
lurus pada jalan yang dilewati. Lalu lintas cukup ramai di pagi menjelang siang ini
lamun apa gimana itu? Saya
eilla keb
fokus gitu
ma lagi kepikira
O
di perhatian Sheilla. Dia me
an? Mikirin gimana saya, gak? Nggak, kan? Saya gak mau bahas dia lagi," pungk
rsebut tahu di mana Bella sekarang. Sheilla menghela napas. Dia pun lantas sama, memili
luas itu berdiri kokoh dengan tiga lantai dan teras di bagian atas. Sheilla menengadah kepala melihat bangunan tersebut. Narendra
atu pelayan menghampiri dan mendorong alat bantu mobilitas yan
iya, Kak. D
ng terparkir di sana. Tentu saja bukan mobil biasa, melainkan kendaraan roda empat-nya pa
ng didominasi tangga, Narendra menggunakan kursi roda, tentu lebih mu
i ... langsung ke kamar Kak
. Ke
ntai b
Pria itu melirik tangan si pelayan yan
a aku gak harus menemui
ri di luar kabin lift itu sungguh berbeda 180 derajat dari Bella. Keputus
dengan siku kanan-kiri menopang pada sisi kursi roda. "Heum
gitu juga," ucapnya terbata. "Maksud aku, tuh, sekalipun mereka bukan mertuaku, ak
bukan tamu, melainkan menantu rumah ini. Dan lagi, aku
?" Sheilla
lur menuju ke lantai dasar rumahnya. "Dari sana, ke sebelah kanan, kamu
ra. Sheilla pun lantas berjalan menuju pintu yang dimaksud, seme
eil
h ketika seseorang mem
? Naren mana?
la menyambut salam Dina. Keduany
ak ikut
gak nyapa pemilik rumah dulu. Om sama tante ada di rumah, Mb
gilnya. Mama sama papa, d
aan, Hasan dan Jenar muncul dari arah belakang Sheill
adis yang menjadi adik iparnya memang tidak seperti tunan
lihat ... istrinya datang nyapa kita
paham. Punya tatakra
ibu mertuanya itu tidak terlalu menyukainya. Tapi, kenapa tidak
ak saya. Jadi, tolong jaga
rang kamu istirahat saja dulu di kamar Naren. Nanti kita makan siang bareng," lanjut ay
kemudian pergi ke kamar
*
k mendapat jawaban. Nomornya tidak tersambung. Alma khawatir dengan keberadaan Bella s
a anak kita satu-satunya. Dia di
ara di teras samping rumah. "Ya ... Papi juga khawatir. Tapi, mau bagaim
anak itu. Ya, begitu, jawaban
nnya kali, ya, Pi? Mungkin
ia lantas meninggalkan istrinya yang ma
patnya, jawabannya sama, tidak satu pun dari mereka mengetahui keberadaan
dikenal yang menelepon ke gawainya. Dia segera mendial i
al
mi
ya. "Bella, Sayang. Kamu di mana
aja, kok, Mi. M
, Sayang. Mam
Bella masih mau di sini. Tapi, Bella bisa minta
g sama mami, apa ya
sama kartu kredit gak bisa dip
dari rumah. Makanya kamu pulang, dong. Kenapa, sih, pake acara kabur-k
u bisa. Bella ditungguin ini
erapa kamunya? Mami
r rekening digital yang disebutkan gadis itu. Namun, Bella tidak memberitahu di mana dia berada meski Alma terus me
bisa apa-apa selain duduk di kursi roda. Itu kenapa Bella per
l. Kamu tahu ...." Sambunga
ya
onselnya yang sudah
a tau tidak kalau Narendra min
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)