icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Sekadar Figuran

Bab 3 Malam Pertama Pernikahan

Jumlah Kata:1405    |    Dirilis Pada: 02/03/2025

en udah seles

roda dengan pakaian lengkap saat Sheilla membuka pintu. Hal yang membuat gadis i

nap

aju dan naik kursi roda

dan anggota tubuh lain masih berfungsi dengan bai

elipis. "Anggota tu

?" Narendra menahan senyum. "Saya masih bisa mendengar suara kamu dari dalam s

ku. Narendra memutar roda pada kursinya, keluar melewati gadis itu. "Jangan lupa kunci pintu! Ata

engah sibuk dengan ponselnya. Perut Sheilla mulai terasa lapar, d

a?" tanya Alma pada keponak

uh. Di

sini, makan bareng

enarik kursi, duduk di tempat biasa dia saat makan b

n, kan, gak bisa ...." Alma

n sendok nasi masih digenggamannya. "Iya, lho, Tan. Kak Naren itu, kan, g

nya gimana, Sheilla? Kamu bant

bisa orang lumpuh melakukan hal yang sulit tanpa bantuan sama sekali. Masuk dan keluar send

arah Wira yang juga tengah melempar

bukan-bukan! Mungkin saja Naren gak mau merepotkan kamu, Shei. Lagi pula, dia

r Sheilla. Gadis itu masih belum sepenuhnya yakin kalau Narendra betul-betul tidak bisa berjalan. Namun, menjelaskan kecurigaannya pada yan

i aksinya harus terhenti saat mendengar sua

gajak-ngajak suaminya ma

Jadi, ya ... aku tinggalin." Malas menanggapi lebih panjang lagi, Sheilla melakuka

las senyum. "Kamu lanjut makan aj

ga yang mau bantu

k kursi-meja makan-dan berusaha bangkit dari posisinya. Narendr

ngong. Semetara Alma yang menyaksikan

Narendra untuk bisa duduk. "Kamu, sih

at badannya segede apa?

angannya agar Wira tidak

ak itu gak tau diuntung. Bisa-bisanya pergi dari rumah di hari pernikahan. Kita lihat berapa l

ami dulu. Bella kita mau hidup pakai apa

ri berani memper

*

uh, Sheilla mengambilkan makanan untuknya tanpa diminta. Bukan hanya itu yang membuat

ka suara derit pintu terbuka dari luar. Sheilla d

dari

belum tidur?" Sheilla menyimpa

gernyit dahi. "Saya tau kamu heran. Soal tadi di kamar mandi saya gak minta bantuan, i

ra. Pria berstatus suaminya itu menyunggingkan senyum. Sheilla m

makas

ndra untuk menyelimutinya. Namun, tatapannya tertuju pada are

a, Shei. Me

s di samping Narendra. Dia ingat menyimpan kotak obat di sana. "Maaf,

menyunggingkan seulas senyum yang dibalas

gak bantu Ka

erlepas sikap dingin yang ditunjukkan gadis itu sejak r

h dengan menggelar matras. Namun, aksinya itu diprotes Narendra. "Saya gak akan ngapa-ngapain

, aneh aja kalo tiba-tiba ada orang lain yang tidu

enunjukkan mimik kecewa.

yang merasa keadaan ini salah. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar, sepertinya Kakak sama sekali tidak terbebani dengan semua yang terjadi saat ini

*

ekaligus memberi kode pada putri sulungnya. Dina menggendikkan

k aja, kan?" tanyanya. "Dina tau, Mama m

r. Ibu dua anak itu tersenyum simpul seray

gelengkan kepala. "Nanti mama sakit.

a. Udah, mama m

gera berdiri. Wanita paruh abad itu

ikahi adiknya Bella tanpa pertimbangan lebih dulu. Gak pake nanya,

melihat Sheilla, Dina menilai gadis itu gadis yang cukup baik. "Mungkin, Naren juga suda

ak terima. "Narendra pikir mamanya ini apa, coba? Mama, tuh, seperti tidak dianggap penting sama anak itu. Asal kamu tau,

an masalah Naren. Ini pilihan hidupnya. Dina gak mau kalau gara-gara ini, mama jadi sakit." Dina menggenggam tangan Jenar seraya tersenyum memohon. S

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Sekadar Figuran
Bukan Sekadar Figuran
“Satu tahun terakhir, Dika Narendra Hasan CEO HSNMega Publisher mengencani Bella, putri sahabat ayahnya, pemilik Perusahaan Percetakan. Demi memperkuat kerjasama, keduanya akan menikah. Namun, dua pekan menuju hari bahagia, Narendra dikabarkan mengalami kecelakaan. Dia divonis lumpuh oleh dokter yang menanganinya. Tidak ingin terjebak dengan laki-laki cacat seperti Narendra, Bella memilih pergi di hari seharusnya dia menikah. Narendra meminta pengganti Bella, dan Sheilla lah yang ditunjuknya. Orangtua Bella yang tidak ingin menanggung aib sekaligus kehilangan berlian seperti Narendra pun membujuk keponakan mereka. Bersediakah Sheilla memenuhi permintaan om dan tantenya sebagai balas budi? Dan mengapa Narendra dengan mudah melabuhkan pilihan pada sosok Sheilla di tengah keadaan-dimana seharusnya dia bersedih karena Bella? Seiring berjalannya waktu, misteri tentang kecelakaan orangtua Sheilla; serta hilangnya seorang penulis yang pernah menerbitkan banyak buku di perusahaan Narendra, perlahan terkuak. Siapa dalang di balik semua kejadian itu?”