en udah seles
roda dengan pakaian lengkap saat Sheilla membuka pintu. Hal yang membuat gadis i
nap
aju dan naik kursi roda
dan anggota tubuh lain masih berfungsi dengan bai
elipis. "Anggota tu
?" Narendra menahan senyum. "Saya masih bisa mendengar suara kamu dari dalam s
ku. Narendra memutar roda pada kursinya, keluar melewati gadis itu. "Jangan lupa kunci pintu! Ata
engah sibuk dengan ponselnya. Perut Sheilla mulai terasa lapar, d
a?" tanya Alma pada keponak
uh. Di
sini, makan bareng
enarik kursi, duduk di tempat biasa dia saat makan b
n, kan, gak bisa ...." Alma
n sendok nasi masih digenggamannya. "Iya, lho, Tan. Kak Naren itu, kan, g
nya gimana, Sheilla? Kamu bant
bisa orang lumpuh melakukan hal yang sulit tanpa bantuan sama sekali. Masuk dan keluar send
arah Wira yang juga tengah melempar
bukan-bukan! Mungkin saja Naren gak mau merepotkan kamu, Shei. Lagi pula, dia
r Sheilla. Gadis itu masih belum sepenuhnya yakin kalau Narendra betul-betul tidak bisa berjalan. Namun, menjelaskan kecurigaannya pada yan
i aksinya harus terhenti saat mendengar sua
gajak-ngajak suaminya ma
Jadi, ya ... aku tinggalin." Malas menanggapi lebih panjang lagi, Sheilla melakuka
las senyum. "Kamu lanjut makan aj
ga yang mau bantu
k kursi-meja makan-dan berusaha bangkit dari posisinya. Narendr
ngong. Semetara Alma yang menyaksikan
Narendra untuk bisa duduk. "Kamu, sih
at badannya segede apa?
angannya agar Wira tidak
ak itu gak tau diuntung. Bisa-bisanya pergi dari rumah di hari pernikahan. Kita lihat berapa l
ami dulu. Bella kita mau hidup pakai apa
ri berani memper
*
uh, Sheilla mengambilkan makanan untuknya tanpa diminta. Bukan hanya itu yang membuat
ka suara derit pintu terbuka dari luar. Sheilla d
dari
belum tidur?" Sheilla menyimpa
gernyit dahi. "Saya tau kamu heran. Soal tadi di kamar mandi saya gak minta bantuan, i
ra. Pria berstatus suaminya itu menyunggingkan senyum. Sheilla m
makas
ndra untuk menyelimutinya. Namun, tatapannya tertuju pada are
a, Shei. Me
s di samping Narendra. Dia ingat menyimpan kotak obat di sana. "Maaf,
menyunggingkan seulas senyum yang dibalas
gak bantu Ka
erlepas sikap dingin yang ditunjukkan gadis itu sejak r
h dengan menggelar matras. Namun, aksinya itu diprotes Narendra. "Saya gak akan ngapa-ngapain
, aneh aja kalo tiba-tiba ada orang lain yang tidu
enunjukkan mimik kecewa.
yang merasa keadaan ini salah. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar, sepertinya Kakak sama sekali tidak terbebani dengan semua yang terjadi saat ini
*
ekaligus memberi kode pada putri sulungnya. Dina menggendikkan
k aja, kan?" tanyanya. "Dina tau, Mama m
r. Ibu dua anak itu tersenyum simpul seray
gelengkan kepala. "Nanti mama sakit.
a. Udah, mama m
gera berdiri. Wanita paruh abad itu
ikahi adiknya Bella tanpa pertimbangan lebih dulu. Gak pake nanya,
melihat Sheilla, Dina menilai gadis itu gadis yang cukup baik. "Mungkin, Naren juga suda
ak terima. "Narendra pikir mamanya ini apa, coba? Mama, tuh, seperti tidak dianggap penting sama anak itu. Asal kamu tau,
an masalah Naren. Ini pilihan hidupnya. Dina gak mau kalau gara-gara ini, mama jadi sakit." Dina menggenggam tangan Jenar seraya tersenyum memohon. S
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)