mun begitu, Sheilla masih duduk diam di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya yang disulap MUA. Selama itu pula, pikirannya bercabang. Apa keputusanny
dua kali lebih cepat dari keadaan
ng sudah
angka sembilan. Tamu undangan pasti telah datang lebih banyak dari yang Sheilla lihat sebelum d
ata rias yang tadi-saat Sheilla didandani-tak henti-henti memuji. "Kakak-nya
aan napas berat, langkah pertama dia ambil. Matanya terpejam bebe
biasa, nanti juga hilang
a bisa aja," uc
a pun lantas menoleh. Ada Alma di a
gimana? Beneran gak masalah kalo Sh
gantikan kakakmu itu kalau buk
ri keluarga Narendra menentang ini, maka sudah dipastikan dia akan bebas. Sheilla menghela napa
ikah, kok, masih bawa-bawa hape. Bia
an di detik akhir itu? Rasanya
kemudian menyeret kakinya hingga ke tempat akad akan dilangsungkan. Dapat gadis itu lihat Naren
g akan menikahi Sheilla itu datar saja seolah sedang tidak ter
sekali menyebutkan namanya. Padahal yang seharusnya dia nikahi itu Bella. Beberapa hari terakhir ten
adis bernama Sheilla Anandita berstatuskan istri. Gadis itu menyeka
eil
han akhirnya lolos juga. "Jefri,"-kekasihnya itu-terla
*
e kapan?" Suara Nerendra mengin
jut Narendra. Pemuda itu sudah menanggalka
h akibat menangis terlalu lama, me
sa terlihat jelas di cermin. "Ini kamarmu dan saya tidak tahu harus dengan cara apa untuk bisa membersi
nyaannya. Sisir, rangkaian skincare dan juga makeup. "Kalau bukan karena dia itu gak bisa jala
pake lupa lagi. Aku lagi haid, tadi pagi buru-buru. Untung Kak Naren belum ke kamar mandi." Dia
sabun, sikat gigi, dan handuk baru untuk pemuda yang saat ini justru tengah sibuk dengan ponsel
n. Semuanya s
sebab Narendra menyebutkanny
kamar mandi. Meletakkan handuk, sabun, dan sikat gigi baru di samping bak. "Apa maksud ucapan Kak Naren, ya? Kalau
tup mengalihkan lamunan Sheilla. Dia berbalik d
heilla. Bisa say
dengkus. "Ya. Tuh, sabun, sikat, handuk. Udah si
alam keadaan marah, gadis di h
ting, ya, Kak? Dit
ada gantinya," sah
h .
ggu! Mau
an Narendra di dalam bilik ma
Cuman ... gak tau ditaru
d tidak dia temukan di kamar. "Mau mandi aja ribet," gerutunya. Sheilla kembali setelah menemukan tas Naren
ei putih dengan taburan kelopak mawar. Hal yang wajar, karena memang itulah yang seharusnya terjadi. Kenyataannya, yang ada sekarang hanya sebuah kesalahan.
la menjerit melih
napa udah mulai mandi bukannya nunggu baju gan
gerah. Taro aja di situ baju
mer, tepat di samping wastafel vessel tempat membasuh wajah, gosok gigi, atau sekadar mencuci tangan. Sangking gugupnya, di tambah Sheil
luar lagi dari bak buat bukai
buk memunguti wadah berisi pasta gigi dan sikat yang biasa dia gunakan. Setel
ang ganjil. "Tapi, kok ... Kak Naren bisa masuk bathtub tanpa bantuan? Dia i
n lagi, gak? Kalau nggak, aku m
um
kak gak butuh bantuan. Bisa
. Berdiri dua langkah dari pintu kamar mandi. Hingga akhirnya, sepuluh menit kemudian, Sheilla me
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)