/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)
ella sang mempelai wanita tak ditemukan di kamarnya. Jangankan Sheilla yang masih speecless menden
dua tangan Sheilla, seraya mengangguk meyakinkan keponakannya. "Cuma kamu yang bisa, Shei. Kamu sayang sama
tangannya yang digenggam Alma-sang tante. Entah ini permintaan atau perintah, sebab sejak Sheilla tinggal dan diurus di
..
uhi permintaan tante kamu?" potong pria berk
Sheilla semakin cepat. Dia menahan tangis, tidak menyangka sedikitpun alasan dia dibawa ke ruang make
e-Sheilla gak bisa,
ma mulai terlihat emosional. "Kamu itu kami yang urus dari k
diungkit. "Sheilla bisa lakukan apa pun untuk Om dan Tante. Tapi, tidak untuk me
udah sangat mengenal pemuda itu. Setiap d
ak Om dan Tante. Sheilla menganggapnya sebagai kak
ajar itu pergi dan sekarang tidak bisa dihubungi.
sang anak dikutuk untuk kesalahan ini. Alma yakin, Bella punya alasan kenapa me
a mulai tersulut emosi. "Gara-gara mama terla
ia mengusap wajah yang sudah berpoles riasan tipis. Baju kebaya berwarna cream melek
di sini." Kembali Alma menegaskan. Kata 'harus' bagai belati ya
masih kuliah. Lagi pula, toh, yang biayaain kam
ih Sheilla waktu untuk pikirin ini dulu
a! Keluarga Naren me
ahnya. Ayah Bella itu mengusap puncak kepala Sheilla sebelum pergi
pernah dia membayangkan jika semua ini akan terjadi pada dirinya. Tangan Sheilla yanru, tapi pemuda yang merupakan kekasihnya itu tidak membalas. Lebih membing
u kembali terbuka, gadis itu menoleh. Sheilla
ya, Nak?" Alma men
ante ... hanya demi reputasi kalian. Sheilla mungkin tidak bisa
kasih, Sayang. Tante janji setelah ini, tante akan bicara
itu, sang tante memintanya untuk segera bersiap-siap. Dua orang
?" tanya salah s
bilik toilet. Kembali, Sheilla menghubungi nomor Jefri. Lagi-la
rumah dan sekarang aku diminta menggantikannya di pelaminan. Kalau ka
*
ernya dan mematikan bunyi alarm yang bising itu. Pukul 08.30, Jefri melotot. Siapa yang menyetel waktu a
di kamar apartemen milik Priska. Wanita malang itu bahk
kap selimut. "Gue jadi terla
ingkan senyum smirk. "Kenapa, sih, S
ilang ke dia bakal hadir. Coba lihat! Jam berapa ini? Bego banget lo nyetel alarm
anya Sheilla bakal terus neleponin kalo telat. Ini, kok, nggak?" Curiga, Jefri memeriksa ponselnya. "Kok, mati? Gak mungki
a lewatin semalam, hah?! Atau jangan-jangan lo main sambil bayangin kalo gue ini Shei
ing di kepalanya akibat efek alkohol semalam belum sepenuhnya hilang. Sambil berusaha menyalakan ponsel,
ka Jefri kembali menghampiri Priska. "I
mengerti. Dia asyik menikmati sebatang
lo juga matiin ponsel. Shei
amu undangan takut banget gak kebagian makanan perasmanan." Priska mulai ikut tersulut seperti sebatang rok
lirih Jefri. "Ah, gak
iska. Namun, belum sampai memegang
n juga kenikmatan. Pacaran berapa lama lo sama Sheilla, pernah gak dia ngajak lo kayak gue ngajak lo begini? Gak perna
rus terjebak dengan buaya betina di hadapannya itu. Masalahnya, Sheilla dipaksa menikah. "Apa dia itu lagi ngerjain gue kali, ya? Gara-gara gue gak datang-datang plus susah dihubungi?" Batin Je
/0/23007/coverbig.jpg?v=a12517b3d9f4d9c745f941cc673b7dc0&imageMogr2/format/webp)