icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

THE DEVIL WIFE

Bab 2 2. PERJANJIAN PRA NIKAH

Jumlah Kata:2000    |    Dirilis Pada: 23/09/2021

belum p

u saja terparkir di depan ka

postur tubuh yang bisa dibilang sangat idea

yang kerap membuat begitu banyak pasang mata menatapnya terkesima, karena laki-laki itu memilik

seorang Gabriel

g baru saja menyandang g

erasal dari keluarga

alu angkuh, egois dan

laki itu duduk di salah satu bangku di mana G

nikah, Gib!" u

menatap dalam bola mata Gaby yang hari ini berwarna biru don

na lo udah bohongin gue!" Tegas Gaby yang terus berusaha menekan kua

encoba mengingkari perasaan

ng mendalam. Susah payah dirinya bangkit dari keterpurukan pasca ditinggal sang Ayah, kini Gaby ta

dengan penyakit yang kini diderita oleh Gibran, tak menutup kemungkinan

y pastikan dia tak akan larut da

ah tau bagaimana akhirnya. Dan menjaga jarak adalah sa

uncak. Perubahan sikap Gaby yang begitu signifikan memang membuat Gibran kaget, tapi seharusnya, ini bukan lagi hal aneh bagi Gibran. Bukankah, s

mantan-mantannya terdahulu. Gaby bersedia menerima kekurangannya. T

ara-gara lo? Jadi lo yang harusnya mikir, gimana caranya supaya pernikah

r

ksa melampiaskannya di atas meja. Kalimat Gaby jelas menikam ulu hatinya. Menusuk dan mer

ahkan gue setiap kali kita ketemu! Bisa nggak sih, lo itu nggak usah terus menerus mengingatkan gue sama kekurangan yang gue miliki? Kalau gue penyakitan, ter

L

keras mendarat

meraba bekas tamparan

telunjuknya yang mengarah tepat di depan wajah Gibran. Mendadak emosiny

rlihat lemah. Bisa jadi, melalui banyaknya kekurangan pada diri seseorang, dari situlah seseorang itu belajar untuk menjadi lebih baik dan

telahnya, wanita cantik itu menundukkan kepalany

r Gibran membatin. Meski dia

mengenal Gabrie

g populer semasa perkulia

liam adalah seorang lelaki berkebangsaan Amerika yang menikah dengan seo

ih dulu berpulang bahkan saat usia Gaby masih sangat kecil, Gaby

karena kebetulan Michael adalah dokter spesialis yang menangani pengobatan G

rang diri. Sampai akhirnya, Gibran dipertemukan dengan ayah kandungnya d

a waktu lamanya. Dan di sanalah dia mengenal Gaby pun keluarga Gaby sendiri. Hanya saja, Gaby tak p

telah menyetujui perjodohannya deng

na?" tanya Gibran dengan suara

nduk. Hal itu membuat jiwa kelelakian Gibran terpanggil. Sejak dulu Gibran

adap Gibran selama ini. Berkat Om Michael, Gibran bisa bertahan dari penyakitnya hingga sekarang. Dan kini, Gibran ha

. Kalau memang itu yang terbaik buat lo,"

uarganya sendiri, adiknya sendiri. Entahlah, Gibran sendiri masih belum paham betul a

sca wanita itu tahu mengenai penyakit yang Gibran derita, perasaan cinta yang pada awalnya sudah

kkan semua itu jika dirinya sudah bersama Gibran. Bahkan Gaby yang dulu dik

la perkataan pedas yang sukses me

ak kepergian ke dua orang tuanya. Padahal yang Gibran tahu, du

ng tadinya periang jadi pendiam dan pemurung. Sampai akhirnya, Tuhan pun

semakin terpu

kembali dengan tegaknya. Mampu kembali m

wanita yang sosoknya selalu sukses menc

suk G

lepas satu tahun nanti, gue akan gugat cerai lo lalu semuanya selesai, oke?" jelas Gaby. Dia menarik jemarinya dari tangan Gi

g langsung menjauh dan kemba

arap gue bakal menunaikan kewajiban apapun sebaga

gi?" Gibran memut

u nggak mau, suka nggak suka, lo harus terima!" Ucap Gaby lagi

h, pasrah. "Ok

! Gue harus pe

. Meninggalkan Gibran yang sampai detik ini masih terus

a menerima keadaan gue apa adanya. Mungkin kita bisa me

nya bisa menghela nafas berat demi mengurangi

berniat hengkang dari kafe itu, sebab dia masi

ar dari Kafe, ada seorang wanita lain yang terlihat berjalan m

papasan di

esuatu

jelas membuat pergelangan tangan wanita itu tertarik kembali ke belakang.

dan untuk menahan pinggang wanita itu. Dan wanita itu pun dengan si

ang setengah membungkuk sementara si wanita terlentang menghadap Gibran yang sengaja menyangga pinggul si wanita dengan tun

aktu seolah ber

sekeliling mereka pun terh

terlihat berjalan begitu lam

n ke dua sejoli d

bicara meski mulut mereka tak saling bersuara. Seolah meresapi perasaan yang terp

tengkuk bagian samping leher wanita

las dalam jarak dekat. Seperti bekas luka bakar sundutan

mengingat sesuatu. Hingga

terlihat tidak percaya dengan

ut Gibran, wanita itu langsung membenarkan posisinya dan menjauhk

help," ucap si wanita itu ser

alan gontai ke dalam kafe sambil sesekali merapikan rambut i

cantik, anggun da

laki-laki berumur sudah duduk di sana terlebih dahulu. Laki-laki yang

ersapa terlihat jelas bahwa mer

afsu bahkan tangan laki-laki itu kini dengan begitu santai bertengger di a

masih d

memperhatikan

rtemuan di mana seseorang yang

t di

kin dengan perasaannya kali in

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
THE DEVIL WIFE
THE DEVIL WIFE
“ROMANCE DEWASA 21+ Harap Bijak dalam membaca! ***** "Ada apa?" tanya Gibran cuek pada wanita dihadapannya. Dia Gaby, calon istrinya. "Besok kita menikah Gib!" ucap Gaby serius. "Terus?" tanya Gibran masih dengan gayanya yang super duper santai. "Kok terus sih? Gue kan udah bilang, gue nggak mau nikah sama lo, karena lo udah bohongin gue!" tegas Gaby yang terus berusaha untuk tidak larut dalam perasaannya sendiri. "Yaudah, lo tinggal batalin susah banget!" balas Gibran yang langsung melengos. Malas meladeni Gaby. "Gue nggak bisa! Om sama Tante gue bakalan ngamuk sama gue! Semua ini kan gara-gara lo, jadi lo yang harusnya mikir gimana caranya supaya pernikahan ini dibatalkan! Gue nggak sudi ya punya suami penyakitan kayak lo!" BRAK! Kalimat Gaby kali ini sukses memancing emosi Gibran, sampai lelaki itu tak lagi bisa mengendalikannya dan terpaksa melampiaskannya ke atas meja. "Lo pikir gue juga sudi punya istri sombong kayak lo? Lo pikir diri lo itu sempurna banget apa jadi cewek, sampe lo terus merendahkan gue setiap kali kita ketemu! Lo pikir gue nggak tau gimana liarnya lo di luar sana? Hari gini, jablay aja dibayar! Nggak ada yang gratisan!" PLAK! Satu tamparan keras mampir di pipi Gibran. "LO NGGAK TAHU APA-APA TENTANG GUE! JADI NGGAK USAH SOK TAU APALAGI MENJUDGE DIRI GUE DENGAN HAL-HAL RENDAH SEMACAM ITU!" balas Gaby dengan gertakan di kedua rahangnya yang putih mulus. Gibran berdecih dengan senyum sinis. "Kalau lo nggak mau direndahkan, belajar lebih dulu untuk nggak merendahkan orang lain!"”