icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

ARFESO

Bab 3 3

Jumlah Kata:933    |    Dirilis Pada: 21/09/2021

atpam saja. Felicia bertanya-tanya tumben sekali mamanya terlambat menjemputnya, bah

pak satpam minta ant

Batin Felicia menimba

hampir sore dia pun akhirnya minta t

tolong nggak?" u

ben sekali murid yang terkenal most wanted, tetapi

agu bagaimana kalau pak satpam sekolah tidak mau. Tidak mungkin kan

ambil jaket dan kunci motor miliknya. Felicia menyunggi

pai. Dia membuka pintu toko roti mamanya yang seketika langsung berhadapan dengan kasir. Kedatangan Felicia membuat banyak

ya Felicia kepada laki-laki

11 tadi nona." ucap laki-laki kasir

tunggu saja." ucap Felicia sembari duduk d

a melihat mamanya dengan seorang pria sedang bermesraan di depan toko dengan mobil merah milik mamanya. Felicia

ika membuat sepasang kekasih yang

p mama Felicia sambil melepas

ang terjadi dan hanya meminta kunci rumah karena dia tidak mau terlalu lama menjadi pusat perhatian dan ingin segera

Atau biar mama suruh pegawai ma

i." ucap Felicia datar lalu berjalan meninggalkan dua sejoli

begitu ramai namun dia masih bertanya-ta

ereka mel

pabila itu reka

a. Bus pun tiba setelah 10 menit dia sampai. Dia duduk sendiri di sampi

sendirian. Begitu sampai rumah dia langsung membersihkan dirinya,berganti baju, meletakkan tas didal

ng... Ding

ketiga sahabat setianya. Sahabatnya sebenarnya banyak hanya saja mereka berubah membenci, mencaci maki, membully, berubah total karena banyak rumor tidak ena

sama hotpants nih nyambut kita?" ucap Ashima me

au." ucap Felicia santai sa

l." ucap Angel yang tidak sa

matematika Feli." ucap Dina sambil m

g mau cari pangkalan atau gimana?" ucap Felicia lalu

ucap Ashima sambil meletakkan gelas

gel, Dina tepat pada kedua tel

hima emosi bercampur gemas

jamet kan?"

? Sehat? Kagak geser

Ashima juga." ujar Angel menimpali ucapan kedua tema

an pulang dari rumah Felicia. Dia kembali merasakan kesepian yang selalu dia rasakan setelah papanya tiada dan hanya bertemu maman

lantai bekas teman-temannya tadi. Setelah dia membersihkan lalu dia b

ali kepikiran, si

an dia jarang b

lakukan setelah

reka melak

arnya saja. Dia begitu masuk kamarnya langsung mengambil meja lipat kecil, lalu dia bel

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
ARFESO
ARFESO
“Seorang perempuan yang jauh dari kasih sayang orang tua secara lengkap bertemu dengan lelaki yang awalnya dia kira akan mewarnai lembaran kelabu ternyata semakin memberi warna kelabu. Memiliki paras lugu dan polos dengan mata teduh setiap memandang yang mampu membuat orang terpesona dalam sesaat. Waktu silih berganti tanpa henti. Kejadian demi kejadian baik manis maupun pahit telah biasa hadir dalam hidup. Tak selamanya bisa bebas bagaikan burung yang terbang di angkasa terkadang harus ada batas untuk sisi hitam dan putih. "Selamat nona hamil 3 bulan saya harap anda tidak seperti wanita belia lainnya yang memilih jalur lain tanpa pikir panjang akan segala risiko." ucap Sang dokter seraya menuliskan resep. Satu tamparan dari wanita usia senja melayang mulus di pipi wanita belia yang kini sedang berbadan dua dari , "Dasar wanita murahan jadi karena haus kasih sayang kamu jadi kupu - kupu malam?! " " Saya tidak ingat apapun saya hanya ingat mimpi itu saya mohon percayalah." elak sang wanita belia menutupi kenyataan. "Nona dimana calon ayahnya? Apakah sudah bertunangan atau pacaran?" ucap sang suster seraya membantu wanita berbadan dua turun setelah USG. "Gue hamil darah daging loe Ka." ucap sang gadis memberikan lembar 2d hasil batas yang mereka hancurkan. Sang laki tak percaya bahwa batas itu benar dia hancurkan walaupun berawal dari uji coba, "Nggak mungkin itu bukan anak gue. Loe pasti jebak gue jijik sama loe parah." Sang wanita menatap bayi mungil seraya mengelus jemari mungil dihadapannya, "Mata kamu selalu mengingatkan sama dia. Saya ragu untuk menutupi dan melindungimu atau mengungkap dengan segala kemungkinan resiko yang lebih parah." Usai sudah 9 bulan dengan penuh irama dalam dada yang tak menentu. Irama yang setiap langkah sebagai temannya. Hal lebih mengejutkan masih menunggu untuk tahap berikutnya.”