icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Menantu Dari Kota

Bab 3 Belanja Ke Pasar

Jumlah Kata:531    |    Dirilis Pada: 22/07/2024

embeli kebutuhan dapur. Mertuanya sibuk di sawah, seme

s biru, sepatu sneakers putih dan tak lupa topi anti badai motif bunga. Semprot parfum ke seluruh tubuh, selesai de

nggak pa

bawa motornya. Yang ada nabrak orang nanti, atau masuk selokan. Tolong

bawa kacamata,"

bag miliknya tidak ditemui benda tersebut. Kaca

ar atau pantai, N

iya tebak, mereka tengah membicarakannya. You know

pasar aja rempongnya minta ampun. Ya, masa

r

i pesan berasal

Ga

betulan

s, ya? Biar tak susul

eet nya sua

n

renakan kaget ketika Pak supir an

tawa supir angkot mengudara membu

a. Dengan tubuh dibuat lenggak-lenggok, dia membuka pintu

nih," keluh Shafiya sambil meny

ya hormat. Lucu deh Abangnya. Tap

ang supir mengucap istighfar dalam batinnya seba

ang?" Shafiya celin

ih, kok enggak pakai p

m aja. Malah cuekin gue," ce

Enggak boleh ada yang naik lagi," tegasnya

k s

k mau demp

er aja,

*

nya Shafiya saat b

a mendatangi tuk

ade naona? Pimping, sirah atanapi dada

lisnya yang tidak gatal karena ti

k Indonesi

, gue sok

sorry

u ngabrut alias

dada?" ta

dagunya dengan jari telunjuk, "bahu a

sa aja si

itu aja deh, bagian paha dua pul

sya Allah tabarakallah. Mau ada ac

emotong daging aya

tah?" s

elama satu bulan," jawab

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Menantu Dari Kota
Menantu Dari Kota
“Kehidupan Shafiyah langsung berubah kala suaminya di PHK dari kantor tempat dia bekerja. Alasannya, karena ada seseorang korupsi--mengambil saham perusahaan sampai mengalami kerugian mencapai milyaran rupiah. Serba-serbi hidup mewah, bergelimang harta, kebutuhan selalu tercukupi, kini roda telah berputar. Sebagaimana takdir berkata tidak melulu kita berada di atas. Ada kalanya harus mengerti dan merasakan bagaimana kehidupan di kalangan bawah. Ya, Shafiyah terpaksa tinggal bersama dengan mertuanya. Sang suami bertani di sawah guna mencukupi biaya sehari-hari. Menghadapi orang tua suami yang masih mengenyam jadul alias jaman dulu. Kehidupan Shafiyah terombang-ambing. Bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Shafiyah bisa bertahan hidup di desa, serta mengalami hal-hal tidak terduga?”