icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Harga Diri Seorang Suami

Bab 2 Perseteruan

Jumlah Kata:1068    |    Dirilis Pada: 26/02/2024

duka itu. Sepanjang perjalanan, air mata Gunawan tak berhenti menetes. Ada segumpal sesal

cengeng. Lebay banget

an mengusap air matanya tanpa merespon ucapan

mu habis. Orang mati nggak bakalan hidup

ngin meladeni ucapan sang istri ya

ini... aku pasti akan sering pulang untuk me

apan sang suami. Dia sama sekali tak s

ih jadi orang,"

erlari masuk ke dalam rumah. Dia tak peduli pada orang-orang yang memanggi

tanpa memperdulikan dirinya. Dia juga tak membalas sapaan par

," ucap seorang perempuan muda yang seusia de

ikah sama cewek kayak gitu? Udah wajahnya nggak canti

i. Nanti kalau orangnya dengar kan nggak enak s

an yang punya segala isi dunia aja nggak sombong. Nah ini! Baru

tu hanya geleng-geleng ke

ada di sana menghalanginya. Mereka beralasan bahwa jenazah sang ibu sudah disucikan dan sia

sa sang suami terlalu berlebihan. Dia hanya kehilangan seorang ibu, b

h ditangisi kenapa sih? Enggak bak

n. Mereka menatap Anggun dengan berbagai ekspresi. Ada ya

dan yang meninggal ini mertua kamu. Bisa jaga mulut nggak sih?

ali Gunawan memperkenalkan Anggun sebagai calon istrinya dulu

an Mira. Tapi Gunawan menatapnya dan menggelengkan

pan tajam. Kemudian dia berlalu perg

*****

uk ke rumah setelah sebelumnya mencuci tangan serta kaki di

tanya seorang perempu

ab sambil menatap wajah bib

arang pulang untuk menengok keadaan ibu di rumah. Ibu sak

Semua sudah takdir dari yang maha

an. Kamu masih menginap di sini kan sampai tahl

gangguk. "Aku masuk dulu ya, Bi

mbut. Kemudian dia mengangguk. Dia menatap punggung

emainkan ponselnya. Dia sama sekali tak menegur

ng istri. Wanita yang dinikahinya dua tahun lalu itu sama sekali

negur Gunawan saat melihat sang suami membuk

mpuan itu. Setelah mendapatkan apa yang

ni!" panggi

baya tampak tergopoh-gop

bantu, Nak?" tanya perempuan itu.

memberikan amplop putih ya

tanya bi Darni

buat tambahan untuk membeli camilan orang-ora

aca. Dia merasa terharu melihat sikap sang keponakan

" Tiba-tiba Anggun datang dan langsung m

gan kamu kasihkan ke orang lain. Apalagi buat acara apa itu?

malam. Hanya itu yang bisa Mas lakukan untuk menebus rasa bersalah pad

g mati tuh nggak bakalan hidup lagi. Orang mati juga nggak butuh duit, Mas. Yang bu

im. Istighfar kamu,

ar kamu. Enggak usah sok paling benar kamu ja

kamu dari pabrik, kan?" Anggun beruja

ami tak butuh uang dari kalian. Kami masih mampu mengada

as ucapan Bi Darni. Tapi suara ketukan di pi

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Harga Diri Seorang Suami
Harga Diri Seorang Suami
“Gunawan dipecat dari jabatannya sebagai kepala pengawas di pabrik. Tak hanya itu, istrinya menggugat cerai dirinya dan mengusirnya dari rumah. Sebagai pria, Gunawan jelas tak terima. Ia berusaha untuk bangkit dan membuat orang-orang menyesal telah meremehkannya...!”
1 Bab 1 Kabar Duka2 Bab 2 Perseteruan 3 Bab 3 Mencari Pekerjaan Baru 4 Bab 4 Penghinaan5 Bab 5 Menuruti Gengsi 6 Bab 6 Perempuan Murahan7 Bab 7 Demi Uang 8 Bab 8 Keterlaluan 9 Bab 9 Kebusukan Rendi10 Bab 10 Sikap Anggun11 Bab 11 Curiga 12 Bab 12 Kejutan 13 Bab 13 Kejutan Kedua 14 Bab 14 Terusir15 Bab 15 Fitnah 16 Bab 16 Bimbang 17 Bab 17 Berharap 18 Bab 18 Menata Hati19 Bab 19 Pekerjaan Baru 20 Bab 20 20. Teman-teman Baru21 Bab 21 Masalah Baru22 Bab 22 Hinaan dan Cacian23 Bab 23 Jatuh Cinta 24 Bab 24 Sebuah Perasaan25 Bab 25 Persiapan Pernikahan Mira26 Bab 26 Karma Untuk Anggun27 Bab 27 Sebuah Kisah28 Bab 28 Tamparan Keras29 Bab 29 Status Baru30 Bab 30 Undangan31 Bab 31 Memulai Semuanya Dari Awal32 Bab 32 Kesedihan dan Kekecewaan33 Bab 33 Dibalik Rasa Kecewa34 Bab 34 Kilasan Masa Lalu35 Bab 35 Kejujuran36 Bab 36 Pengakuan37 Bab 37 Keputusan Bersama38 Bab 38 Pekerjaan Baru Lagi39 Bab 39 Bertemu Kembali40 Bab 40 Si Pembuat Masalah41 Bab 41 Rencana Yang Gagal42 Bab 42 Salah Paham43 Bab 43 Belum Berakhir44 Bab 44 Menepati Janji45 Bab 45 Siasat Busuk46 Bab 46 Akhirnya47 Bab 47 Memulai Lagi48 Bab 48 Menata Kembali49 Bab 49 Mulai Membuka Hati50 Bab 50 Jatuh Hati51 Bab 51 Jujur Itu Lebih Baik52 Bab 52 Yang Terbaik53 Bab 53 Sebuah Nasihat54 Bab 54 Memperingatkan55 Bab 55 Fakta Mengejutkan56 Bab 56 Patah Hati57 Bab 57 Akhir Kisah Itu58 Bab 58 Move On59 Bab 59 Salah Sasaran60 Bab 60 Berakhir Sudah