icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Affair With Santa

Bab 4 I'M Marcel

Jumlah Kata:1084    |    Dirilis Pada: 13/02/2024

enuju flat kecil-nya sambil menengok ke belakang, memastikan

H

ap dengan benar. Setelah dia menangkap siluet tubuh pria itu, mulutnya menganga dan dengan tenaga yang tersisa, dia berteri

il melipatkan kedua tangan dan menyandarkan

ad-nya atau pengawal yang tadi. "Pergilah" desahnya pelan. Dia benar-benar lelah jika emosinya harus terkuras juga untuk menghada

uda itu menaiki tiga anak tangga menuju flat-nya. Sampai suara berd

lo D

menahan diri untuk menghirup oksigen saat melihat Ayahnya

buhnya seratus delapan puluh derajat. "Ah-kau ingin berbicara sesuatu yang pe

di jok kulit asli miliknya. Mereka berdua sadar kalau pria yang sudah menampilkan raut wajah kesal kini berdehem pelan – tapi

*

t panas-mu ketika membuat aku malu

temen-nya. Salah satu gedung pencakar langit di sana, kini hany

Mar

"Santa" jawabnya singkat. Jantungnya masih berdetak tidak normal ka

kepala pelan. Hingga dia menyuarakan pemikiran yang sedari t

pa

u dengan urusan gadis di sampingnya. Jelas-jelas dia p

jok mobil. "Aku butuh bantuanmu" sambungnya lagi sambil memiring

keptis. Tidak mempedulikan raut wajah pria di sampi

n atas bantuanmu" ucap Marcel mantap membuat Santa menelan ludah saat mendengar kata 'bayaran'. Mar

ah

au rencanaku ini berhasil, dan tentu saja kal

bang tawaran Marcel. "Sure" pungkasnya dengan cepa

un dari mobil, berjalan mendahului 'tamu'-nya ke dalam lift di bagian ujung bassement. San

. Santa pun bertanya-tanya, apakah apartemen ini memiliki banyak tingkat? Sesungguhnya dia ti

punyai banyak uang. Terlihat dari interior modern-klasik dinding per dinding yang di desain sedem

atas penthouse pribadi milik pria bersuara berat di sampingnya. "Tenang

nta di tengah perjalanan mereka menuju lantai selanjutny

atakan sep

ngan terasa begitu menyengat saat pintu simetris di depannya terbu

bisa be

h ruangan. "Di sana, kau bisa memilih segala jenis pakaian. Bagian bawahnya ada beberapa sepa

E

rgi dulu

E

n yang masih belum tersentuh kulit itu langsung menusuk indera penciumannya. Dia tidak seperti wanita lainnya, menatap gaun-gaun m

ah dipoleskan dengan sembarang, pemakaian blush on tipis. "

uk perayaan hari ulang tahun sang pemilik penthouse. Tapi para kolega yang datang, menjadikan ini sebagai acara pentin

dasi kupu-kupu miliknya. Satu setelan A

lihat s

tamu yang berbisik tadi. Dua wanit

Marcel?" Tanya wanita be

an tadi. Senyum samar nampak menghiasi wajah sang pemilik pesta, Marcel. Seme

erjalan pelan ke

an gembira. Sang anak kecil itu segera mer

here!" Balas gadis kec

isa menggumamkan sebuah nama. Pria yang

dre

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Affair With Santa
Affair With Santa
“Gemerisik dedaunan, dentingan ranting-ranting yang saling bersentuhan akibat tiupan angin membuat siapa saja lebih memilih memilih bergelung di bawah selimut atau paling tidak meminum cokelat hangat. Hari sudah semakin larut tapi kota New York seperti tidak pernah tidur. Seorang gadis mengeratkan jaketnya yang tebal, giginya sedikit bergemelutuk, bahkan sepatu boots hingga ke lutut tetap tidak melindungi kakinya seperti sudah membeku. Berdiri di bawah pohon besar di saat suhu dibawah nol derajat merupakan pilihan paling buruk bagi siapa saja, termasuk gadis itu. Dia bukanlah seorang yang bodoh dan tidak mempunyai pilihan. Dia punya pilihan untuk pulang, mematikan ponsel dan berakhir tertidur lelap di tempat tidurnya, tapi dia tidak melakukan itu. Bagian bawah sepatunya sudah menipis sehingga tidak dapat melindungi kakinya dari dinginnya es membeku di bawah sana. Sesekali dia meringis karena demi apapun kakinya sudah tidak bisa digerakan lagi. Apakah darah yang dipompa jantungnya sudah tidak sampai ke bawah sana? Entahlah. Kedua tangannya yang terbungkus sarung rajutan merah saling berkumpul untuk menggesek telapak tangan sehingga menghasilkan rasa panas sedikit di sana. Dia mendesah sambil memajukan kepalanya sedikit ke arah badan jalan, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan orang yang ditunggunya. Akhirnya, dia tersenyum kecut. Dia memang bodoh, lagipula ini sudah terjadi lebih dari satu kali, seharusnya dia boleh belajar dari pengalaman saja tanpa mengulang itu. Sebelum dia membalikan tubuhnya menuju tempat pejalan kaki yang berada satu meter di belakangnya, tubuhnya oleng. Astaga, apakah dia hipotermia? Di sini? Di sudut taman tanpa satu orangpun melihatnya? Sayup-sayup sebelum kepalanya terbentur ujung ayunan di taman itu, dia merasakan pelukan hangat seseorang. Lebih hangat dari jaket tebal yang dia gunakan ataupun penutup telinga berbulu halus, sangat hangat sampai dia merasakan jantungnya tidak akan beku meskipun keluar dari tubuhnya karena berdetak semakin menggila. "Kau baik-baik saja?" Gadis itu tidak bisa menjawab, tapi dengan mata tertutup, telinganya bisa menangkap jenis suara berat itu milik seorang pria. Dia masih berkutat dengan pikirannya untuk mengembalikan kesadarannya yang berangsur-angsur pergi, gadis itu tidak ingin penolongnya menghilang setelah menyelamatkannya; khas film yang dia tonton akhir-akhir ini.”
1 Bab 1 Birthday Andre2 Bab 2 Istri bayangan3 Bab 3 Undangan Pesta4 Bab 4 I'M Marcel5 Bab 5 Persaingan dimulai6 Bab 6 Mata-mata7 Bab 7 Siasat8 Bab 8 Perpisahan 9 Bab 9 Misi10 Bab 10 Simpanan11 Bab 11 Terbang ke jakarta12 Bab 12 Curiga13 Bab 13 Gencatan