icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Ritual Birahi Digunung Keramat

Bab 2 Part 2. DEMENAN

Jumlah Kata:2181    |    Dirilis Pada: 05/12/2023

a ikatan rambutnya sehingga rambutnya yang panjang tergerai indah. Aku merasakan ses

aja, Jang." Kata Mbak Wati tertawa kecil meli

rbeda dibandingkan saat di Bogor." Jawabku

tanya Mbak Wati sambil memp

cantik yang berkemben mengibaskan rambutnya yang panjang sehingga beberapa perhiasan yang menempel pada rambutnya berjatuha dan saat menye

ucat?" tanya Mbak Wati menjadi khawatir, dia m

ha memberanikan diri membuka mata. Wanit

nya, membuatku menahan nafas mengikuti gerakkan baju yang terangkat semakin tinggi. Perut Mbak Wati memang berlemak, tapi tidak se

, menggodaku yang shock melihat payudaranya yang terbungkus BH, aku in

lan sehingga seperti sebuah slow motion yang membetot kesadaranku. Celana dalamnya menghalangiku melihat bentuk mem

tawa geli, tangannya berkacak pinggang. Sayang, BH dan Cd menutupi bagian ya

terlepas dari badanku melewati kepala. Dengan santai mbak wati berjongkok dan membuka celanaku seperti seorang ibu yang menelanjangi anaknya yang nakal dan ti

tolku yang sudah berdiri dengan perkasanya. Reflek aku menutup kon

lalu telanjang di depanku. Hihihi" Mbak Wati tertawa geli melihatku yang pucat karena malu. Ta

sehingga tubuh kami bersentuhan, hangat sekali tubuhnya, bahk

ak Wati berbisik sehingga nafasnya menerpa leher

tubuh kami semakin menempel, payudaranya yang besar terasa lunak dan hangat. Ya

ti, tangannya memeluk leherku sehingga kesadaranku ny

Mbak Wati membantu ku membuka kait

Tanpa dapat kutahan dan aku memang tidak berusha jntybertahan, aku berjongkok menatap gundukan memeknya yang t

!" kata Mbak Wati menyadarkanku, ini bukan tempat yang teppat untuk menikmat

an berisi kembang dan minyak mawar dari tasnya. Kembang ditaburkan dalam ember yang masih kosong. Ak

in, setelah itu Mbak yang mandii

Wati binti Adam,..

baca mantra untuk mandi hingga selesai. Mantra ya g menurutku

n air dari gayung ke atas kepala Mbak Wati sebanyak tujuh gayung, aku melakukannya dengan tergesa gesa. Ak

h Mbak Wati yang terlihat khusu menjalani prosesi ritual. Hilan

inya, aku berjongkok menghadap Mbak Wati sehingga aku bisa melihat m

tertawa kecil melihatku, dia mendekatkan memeknya ke wajahku membuat wajahku semakin memera

ergerak mundur menjauhkan memeknya dari wajahku, reflek aku mengejar memek

ka kamu, sepuasnya. Sekarang kamu menghadap sendang.!" kata M

sangat khusu sehingga membuat bulu kudukku merinding membuatku melupakan bayang bayang memeknya dari pi

ku yang sedang khusu. Aku segera berdiri nenat

ana, Mbak?" tanyaku setel

ah dulu di sana." jawab Mbak Wati tersenyum menggod

tahuku menyediakan kamar kamar untuk menginap dan melakukan ritual mesum. Sungguh tempat yang sangat unik, satu sisi tempat ini dianggap sebagai tempat sa

ng datang, Mbak Wati membeli dua bungkus kembang dan menyan yang sudah tersedia. Setelah itu kami masuk bangunan makam yang diberi nama

siur, banyak persi yang beredar tetapi yang paling

h pendirian, dan dengan hati yang suci. Jangan tergoda oleh apa pun, harus terpusat pada yang dituju atau yang diinginkan.

membuat ritual sex tumbu

tanya kuncen ke Mbak Wati yang dengan lancar meny

u., menanyakan hal yang sama sepe

akin merinding saat kuncen membaca mantra. Bau menyan yang mengingatkanku ke Abah, setiap malam Jumat Abah

, menyuruh kami masuk ke dalam cungkup makam. Hanya kami berdua di dalam cu

mulus, tanpa sadar, aku pun ikut menangis. Teringat dengan nasibku, umur 8 aku sudah menjadi yat

a sadar, dahi kami menyentuh marmer makam yang dingin, semua tangis dan kesusahan yang dialami semuanya, seakan ter

bak Wati, masih terlihat matany

. Aku kesini karena ajakannya, maka

kan bangsal Sonyoruri seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta dan kerinduan setelah lama berpisah. Mungkin ini yang di

h sepasang suami istri,. Mbak Wati adalah seorang istri yang datang mencari berkah kekayaan sehingga rela berzina denganku seorang perjak

erjejer warung warung yang sepi, setia menunggu malam Jum'at Pon tiba. Pada saat itulah ribuan orang akan memadati tem

ai, tanganku semakin erat menggenggam tangan Mbak Wati yang menoleh ke arahku dengan senyumnya yang khas, sebentar lagi aku akan m

*

putih. Piring kosong untuk tempat bunga, semuanya diletakkan di meja. Dari

ntukku. Aku dibesarkan oleh Ibu dan Abah/kakekku serta Mang Karta yang sangat memegang teguh adat istiadat, tradisi yang rutin kami lakukan pada malam malam tert

kata Mbak Wati tersenyum menatapku yang asik melihat persiapan yang dilakukan Mbak Wati. Mbak Wati membuka jilbab perlahan lahan, membua

enggeraikan rambutnya yang panjang dan basah, semakin menambah kecanti

kencang saat Mbak Wati mengangkat bajunya perlahan sehingga aku m

elus perutnya yang berlemak, seolah ingin men

abku gugup dengan p

kan bajunya sehingga aku gagal melihat keindahan payudaranya yang suda

ku berusaha meredakan kemarahan Mbak Wati. Aku tidak

ngkat baju atasnya perlahan lahan berusaha menggodaku yang bisa menarik nafas lega

setidaknya keteganganku mulai berkurang,

tinggi menaikkan bajunya, kembali aku menarik nafas

ayudaranya yang tidak tertampung seluruhnya oleh BH yang m

ir liur untuk membasahi tenggorok

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ritual Birahi Digunung Keramat
Ritual Birahi Digunung Keramat
“"Jang, kamu sudah gak sabar ya?." tanya Mbak Wati setelah mantra selesai kami ucapkan dan melihat mataku yang tidak berkedip. Mbak Wati tiba tiba mendorongku jatuh terlentang. Jantungku berdegup sangat kencang, inilah saat yang aku tunggu, detik detik keperjakaanku menjadi tumbal Ritual di Gunung Keramat. Tumbal yang tidak akan pernah kusesali. Tumbal kenikmatan yang akan membuka pintu surga dunia. Mbak Wati tersenyum menggodaku yang sangat tegang menanti apa yang akan dilakukannya. Seperti seorang wanita nakal, Mbak Wati merangkak di atas tubuhku...”