icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

ZORA Pupus Sebelum Mekar

Bab 4 Luka dan Duka

Jumlah Kata:620    |    Dirilis Pada: 22/11/2023

Luka d

ilkan baju ganti?" Lisa berkata dengan suara le

ajahnya tampak cemas. Lisa menggeleng. Tersenyum melihat

Bayi say

olong ambilka

ira dia

karena pipis. Dia m

entar." Ryan ber

Dia hanya perlu berbagi ASI, maka uang akan datang. Tidak perlu lagi bekerja. Tidak per

popok. Gerakannya berhenti saat dia sadar

u susu dalam ajaran agamanya. Bahwa bayi perempuan di depannya adalah anak susunya. Y

u dengan bayaran yang dijanjikan Ryan. Dia tidak

n datang membawa baju ganti untuk bayi perem

tanya Ryan. Dia masi

tinggal di atas brankar dalam keadaa

alau bayi Anda perempuan?"

ra

bertambah panik. Kini buka

a muda di de

. Bukan dia tidak rela membagi ASI. Dia takut sesuatu hal akan terjadi di m

dak paham deng

Ryan. Berjalan mendekat ke brankar. Membersihkan dan mengganti baju s

gayun-ayun tubuh bayi per

hra

yang c

amu kenapa seperti orang men

emp

. Ah, bayi dalam buaian benar-benar telah menyihirnya

aki-laki. Re

adi saudara. A

a mereka akan menjadi saudar

berpisah, lalu akhirnya Reyza dan Zohrah menjadi asing. Tidak me

reka ketemu la

h jika mereka

dak terjadi apa y

ng sudah tertidur pada Rya

ruang

terima

h pada Ryan. Sikap pria itu m

du! Lisa tengah berusaha membunuh rasa cint

Lisa. Tanpa merasa berdosa pria itu menelantarkan Lisa di tengah kesakitan saat kontra

yan meminta izin. Bayi dalam gend

en

sekali

h juga

agai keluarga kecil yang dip

kem

a hanya dua orang asing ya

a. Dan Lisa d

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
ZORA Pupus Sebelum Mekar
ZORA Pupus Sebelum Mekar
“"Bayi kita butuh ASI dari ibunya. Aku mohon." Ryan menggendong bayi perempuan mereka dalam buaian. Untuk ke sekian kali ia meminta. Nisa masih terbaring di atas brankar. Ketika Ryan menaruh bayi itu di sampingnya, Nisa memalingkan wajah ke dinding. Rasanya tidak sudi melihat bayi mungil itu. Dia tidak pernah menginginkan bayi itu lahir. Bahkan jika bisa, dia ingin bayi itu tiada sejak dalam kandungan. Namun segala upaya yang dilakukan, tak ada yang berhasil. Janin itu malah tumbuh subur di rahimnya. "Nis, kamu ibunya. Tolong, berikan dia ASI," bujuk Ryan sembari mengelus pipi bayi perempuan yang cantik itu. "Sekali aku bilang enggak. Itu berarti enggak," tolak Nisa. "Dia butuh kamu, ibunya." "Tapi aku enggak butuh dia. Aku enggak pernah ingin dia hadir di hidupku." "Kamu boleh membenciku, tapi tidak dengan Zohrah."”