icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

IBU YANG KAU BUANG

Bab 4 Risma

Jumlah Kata:1129    |    Dirilis Pada: 23/10/2023

ihatannya ibu tidak m

cara dengan Damar. Aku pun memutuskan untuk mencuri dengar apa yang mereka bicar

i kalau ibu itu walaupun orangnya lembut, tapi juga cukup tegas. Sekali bel

rempuan berambut panjang itu hanya bersikap baik padaku jika ada maunya. Aku men

bu untuk memberikan kita modal. Mas Hendri sudah mendesakku un

ika. Sementara Tika dan Hendri tinggal dengan Bu Marni, orangtua Feni. Aku dulu pernah meminta pada Bu Marni

ti karena usaha Mas Hendri berkembang. Aku juga ingin seperti Mbak Tika, Mas. Aku juga ingin kemana-

a itu? Dia ada-ada saja. Tapi sejauh yang aku lihat, selama ini memang Tika dan Hendri selalu

, tapi susah sekali mem

k ibu! Jika kamu tidak berhasil, lebih baik pulangkan saja ak

ya sendiri. Padahal aku dulu tidak pernah meninggikan suaraku pada mendia

ku pasti akan membujuk ibu lagi. Tapi kumohon jangan mengatakan sep

membujuk ibu, kalau tidak, aku akan benar

kan melakukan apapun

ya sebutannya untuk hal seperti itu? Ah, entahlah aku tidak tahu. Dia terlihat sepe

ak tahu kenapa aku ingin pergi ke rumah Risma. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Dia adalah mantan istri mendiang sua

seperti Mas Darman. Dari pernikahannya, mereka mempunyai seorang putra. Dani namanya. Tapi dia ikut

tranya. Rasanya aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Ak

ya?" tanyaku pada sa

keman

n Temenggung

ukang ojek yang terlihat masih muda

ngsung memakainya. Kemudian aku naik di jok belakan

h sedikit jauh dari rumahku. Itulah sebabnya aku jarang berkunjung setelah Mas Darman tia

Aku menepuk pundak tukang oj

entikan laju motornya, lalu m

at ke sekeliling. Mencoba meng

erasa kalau rumah itu adalah rumah Risma. Aku masih mengingat pohon mangga yang tumbuh di depan rumahnya. Pohonnya

rku sembari turun dari motor, l

i, Bu?" tanya

nerimanya, kemudian aku merogoh selembar kertas seratus ribua

erlihat berbinar, "Ini ... i

a, ini rejeki. Ti

Bu," sahutnya sembar

ang ojek tersebut mulai menjauh. Andai saja Damar mau bekerja apa saja seperti tukang ojek itu, aku pasti senang sekali

i dengan wanita lembut itu. Risma adalah pribadi yang sangat lembut. Dia mudah sekali untuk ber

ar rasanya. Setelah tiba di rumah Risma, aku mengetuk pintu berc

n dari dalam. Padahal aku sudah mengetuknya berkali

elisah. Hatiku tampak

u mencari

ang wanita muda berdiri

sma. Ini benar r

rahku. "Iya betul ini memang rumah Bu Risma, tapi maaf. Ap

tidak percaya dengan ap

sma sudah mening

... Risma." Aku membekap mulutku mendengar meni

Rumah Bu Risma pun tak berp

kasih banyak, Mbak. S

u. Sama

atas berita kematian Risma. Rasanya hatiku tera

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka