icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Ratu Kerajaan Niskala

Bab 4 Perselingkuhan Dalam Istana

Jumlah Kata:666    |    Dirilis Pada: 02/07/2023

oka dan Dewi Wulan dengan pandangan tajam.Berg

g Maha Melihat semua perbuatan kalian?" Suara Mahapatih Dwi Jenggolo lirih nam

kerajaan yang sudah menjalani dua masa pemerintahan sejak ayahanda Raden Eka Kenco

h tetap memberimu posisi kekuasaan. Malah kamu mengotori ranjang Kanjeng Raja. Di mana nuranimu?" Mahapatih Dwi

n siang bersama telah berbunyi. Dia masih menahan geram melihat ti

menjodohkanmu dengan Kanjeng Raja agar kamu bisa memakmurkan tanahmu dengan fasilitas yang diberika

ari kulit hewan dan dipukulkannya ke tubuh Dewi Wulan. Suara jeritan panjang De

Raja,Raden Eka Kencono melarangnya. Lengannya terentang seolah menghadang langkah Sang S

dikuatirkan." Raden Eka Kencono tetap duduk di depan

epaya hari ini?" tanyanya pada Ki

ih menampakkan kekuatiran. Sesekali dia menoleh ke arah pintu yang

narnya?" tanya

k. Besok akan saya pastikan tumis bunga pepaya akan terhidang kembali," ujar Ki Sarkara, berjanji pada Sang Raja.R

polos untuk bisa memahami kejadian yang

pati Arnawama. Mahapatih Dwi Jenggolo sangat paham dengan apa yang harus dilakukannya." Raden Eka Kencono menghela nafas pan

Dwi Jenggolo memasuki ruang makan sambil mena

ormat buat seluruh kerabat istana." Mahapatih menundukkan kepala

enganggukkan kepala. "Silakan duduk di tempat

lewati deretan kursi para punggawa lainnya. Tata krama dalam bertindak

no menepuk pelan bahu Mahapatih Dwi Jenggolo. Dengan berbisik pelan, Sang Raja berkata,

lem buat kehormatan Paduka dan Kerajaa

Mahapatih Dwi Jenggolo tak dapat menutupi kekecewaan

rkenan, bisakah menceritakan ada kejadian apa? Dan di manakah

ti Arn

terdiam. Tidak menjawab sepatah

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ratu Kerajaan Niskala
Ratu Kerajaan Niskala
“Menjadi anak dari seorang permaisuri, tidak lantas menjadikan Putri Candra Utari menjadi seorang putri raja yang memiliki kehidupan nyaman. Karena Sang Ayah, Raden Eka Kencono memiliki lima orang istri selir. Masing-masingnya memiliki putra putri kecuali istri selir ketiga yang bernama Ratu Alit Ratri. Ketika Putri Candra Utari telah memasuki usia dewasa, tibalah saat pengukuhan Sang Putri untuk menjadi pewaris utama pimpinan kerajaan. Dan saat itulah, berbagai macam konflik muncul secara berentet. Namun, Putri Candra Utari telah dididik oleh ibundanya, Ratu Arum, untuk menjadi seorang wanita yang teguh pada prinsip hidup. Dan bekal ilmu kanuragan yang dimilikinya tidaklah main-main. Putri Sekar Buana, Putri Lintang Alit, dan Putri Pupus Cantika adalah para putri dari istri-istri selir. Mereka bertiga selalu mencari peluang untuk menghancurkan kedudukan Putri Candra Utari sebagai Putri Mahkota. Bahkan hingga mendekati waktu pernikahan Putri Candra Utari pun, ketiga putri dari para istri selir itu masih membuat masalah. Merasa tidak betah dengan kelakuan para saudara tirinya, Putri Candra Utari memutuskan untuk sementara waktu keluar dari istana dan menambah ilmu kanuragan ke kampung Bebrayan. Kampung yang dikenal sebagai tempat asal para pendekar. Ada sebuah perguruan yang sangat terkenal di sana bernama Perguruan Langit Ageng yang dipimpin oleh Ki Bayu Seno. Seiring perjalanan waktu, akhirnya Putri Candra Utari mendirikan sebuah kerajaan kecil di desa terpencil yang berada tidak jauh dari kampung Bebrayan. Kerajaan itu diberinya nama Kerajaan Wulan Katigo. Yang pada akhirnya,tiga tahun kemudian kerajaan kecil itu memiliki kebesaran nama sebagai kerajaan yang makmur. Tepat di tahun ketiga itulah, terbetik kabar bahwa Kerajaan Niskala, kerajaan ayahnya, telah mengalami berbagai macam pemberontakan. Kehidupan ekonomi kerajaan tersebut sudah berada di ambang kehancuran. Putri Candra Utari berniat untuk membantu kerajaan Sang Ayah, tanpa mengungkapkan jati dirinya. Sang Putri selalu mengenakan topeng dan mengaku sebagai Pangeran Layang Jembar. Hingga berulang kali kerajaan Nirpala menemui kemenangan. Namun, di tengah-tengah setiap pertempuran yang dilakukannya, selalu ada sekelompok penyusup yang mengenakan tanda tertentu dan dipimpin oleh seseorang yang juga mengenakan topeng. Tak pernah ada yang mengetahui siapa dan dari mana prajurit bertipeng itu. Mereka datang dan pergi dengan tiba-tiba. Akankah Sang Putri dapat mencegah pengambilan kekuasaan kerajaan Niskala dari tangan orang-orang yang tidak berhak? Dan bagaimana Sang Putri menunjukkan jati diri dia yang sebenarnya? Lantas siapakah sesungguhnya para prajurit bertopeng itu?”